ReutersReuters

Fitch Afirmasi Tunas Baru Lampung di ‘B+’ dan ‘A(idn)’; Outlook Negatif


(The following statement was released by the rating agency)


Fitch Ratings-Singapore/Jakarta-18 March 2021:

Fitch Ratings telah mengafirmasi Peringkat Jangka Panjang Issuer Default Rating (IDR) dari produsen minyak sawit dan gula yang berbasis di Indonesia, PT Tunas Baru Lampung Tbk di ‘B+’ dengan Outlook Negatif. Peringkat surat utang senior tanpa jaminan sebesar USD250 juta 7% yang jatuh tempo pada 2023, diterbitkan oleh anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya, TBLA International Pte. Ltd., dan dijamin oleh TBLA dan semua anak perusahaan operasional yang dimiliki secara mayoritas, juga telah diafirmasi di ‘B+’ dengan Peringkat Recovery ‘RR4’. Pada saat yang bersamaan, Fitch Ratings Indonesia telah mengafirmasi Peringkat Nasional Jangka Panjang TBLA pada ‘A(idn)’ dengan Outlook Negatif dan peringkat obligasi senior tanpa jaminan sebesar IDR1,5 triliun pada ‘A(idn)’.


Rasio leverage net debt/EBITDA TBLA berada pada 3,7x pada 2020, sedikit di atas sensitivas kami untuk tindakan pemeringkatan negatif, karena EBITDA yang lebih tinggi atas harga yang lebih baik sebagian besar diimbangi oleh kenaikan yang tinggi pada utang bersih. Kami mengekspektasi leverage akan turun ke kisaran 3,5x pada 2021, didukung oleh keuntungan dari yield dan volume penjualan yang lebih tinggi, kemudian untuk tetap stabil setelah itu. Namun, arus keluar modal kerja dan belanja modal yang berada di atas ekspektasi kami, yang mengarah kepada arus kas bebas negatif yang tinggi pada 2020, tetap menjadi risiko utama atas profil keuangan TBLA. Hal ini direfleksikan pada Outlook Negatif.


Peringkat TBLA juga memperhitungkan keuntungan dari diversifikasinya ke bisnis gula serta integrasi vertikal dari kapasitas penyulingan dan pengolahan hilir minyak sawit yang substansial dan keberadaannya di sepanjang rantai nilai industri gula, dari perkebunan hingga penyulingan.


Peringkat nasional di kategori ‘A’ menunjukkan ekspektasi akan resiko gagal bayar yang rendah relatif terhadap emiten atau surat utang lainnya di Indonesia. Namun, perubahan situasi atau kondisi ekonomi dapat mempengaruhi kapasitas pembayaran tepat waktu ke tingkat yang lebih tinggi daripada kasus komitmen keuangan yang ditunjukkan dengan kategori peringkat yang lebih tinggi.



FAKTOR-FAKTOR PENGGERAK PERINGKAT

Yield Rendah akan Membaik: Kami mengekspektasi yield TBLA untuk meningkat pada 2021-2022 karena curah hujan yang lebih tinggi sejak akhir 2019; telah terdapat beberapa indikasi pemulihan, dengan yield 4Q20 sekitar 5 ton, dibandingkan yield 9M20 sebesar 8 ton. Marjin EBITDA menurun sebesar 80bp pada 2020, terlepas dari harga produk yang lebih tinggi, setelah adanya penurunan sebesar 25% pada yield tandan buah segar. Hal ini mengurangi output crude palm oil (CPO), mengharuskan TBLA untuk melakukan pembelian eksternal yang lebih tinggi untuk penyulingan. Yield yang lebih rendah pada 2020 mengikuti penurunan hampir 20% pada 2019, yang disebabkan oleh kondisi cuaca yang kering, menurut TBLA.


Harga Gula Rendah Mengimbangi Peningkatan Penjualan: Indonesia bergantung pada impor gula mentah karena output domestik jauh lebih rendah dari permintaan. Walaupun demikian, kuota impor terbatas dari pemerintah yang dialokasikan kepada perusahaan pengolah gula, seperti TBLA, sering mengakibatkan tingginya harga domestik. Kami mengekspektasi pemerintah untuk mengambil langkah-langkah untuk menurunkan harga pada 2021 dan meningkatkan kuota impor gula. Dampak terhadap harga akan melebihi keuntungan pada pendapatan gula 2021 TBLA dari volume penjualan yang lebih tinggi.


Harga gula terealisasi TBLA meningkat sebesar 14% pada 2020, setelah peningkatan sebesar 11% pada 2019, karena pembatasan kuota dan tingginya harga gula internasional. TBLA mengimpor 180 kilo ton gula mentah pada 2020 dan dapat mengimpor 98 kilo ton lagi hingga Mei 2021.


Output Lebih Tinggi Melemahkan Harga CPO: Harga minyak sawit pada 1H21 akan didukung oleh kurangnya tenaga kerja asing di Malaysia dan harga yang tinggi untuk minyak kedelai sebagai substitusi. Namun, kami mengekspektasi output industri akan meningkat sepanjang tahun, dengan dampak pada harga yang lebih jelas pada 2022; hal ini akan mempengaruhi EBITDA TBLA. Kami telah meningkatkan asumsi kami untuk rata-rata harga CPO acuan Malaysia pada 2021 menjadi USD700/ton, dari USD560/ton sebelumnya, dan menurunkan asumsi kami untuk 2022 menjadi USD550/ton, dari USD600/ton. Asumsi jangka panjang kami tetap tidak berubah pada USD600/ton.


Profil Keuangan Didukung Dividen dan Pembelian Kembali Saham yang Lebih Rendah: TBLA telah mengurangi pembayaran dividennya menjadi setengah sejak 2019 untuk mendukung profil keuangannya. Kami memperkirakan pembayaran yang berkurang ini akan berlanjut pada 2021-2022. Arus keluar TBLA untuk pembelian kembali saham pada 2020, sebesar IDR36 miliar, juga lebih rendah secara signifikan daripada rencana awalnya sebesar IDR300 miliar.


ESG – Strategi Manajemen: TBLA memiliki Skor Relevansi ESG ‘4’ untuk Strategi Manajemen. Arus modal kerja perusahaan volatil, sementara belanja modal sering lebih tinggi daripada ekspektasi kami. Meskipun arus keluar modal kerja yang besar di 2020 dapat diatribusikan kepada peningkatan pendapatan dan beban pokok penjualan karena hari modal kerja bersih cenderung tetap, komponen-komponen individu tetap volatil. Keuntungan dari hari persediaan yang lebih rendah diimbangi oleh hari koleksi piutang usaha yang lebih tinggi dan hari pembayaran utang usaha yang lebih rendah. Persediaan TBLA dipengaruhi sebagian oleh impor gula mentah, yang bergantung pada kapan pemerintah mengeluarkan kuota dan arah harga internasional. Belanja modal TBLA pada 2020 juga lebih tinggi daripada ekspektasi kami karena pengeluaran yang berkelanjutan untuk penanaman baru dan penambahan kapasitas untuk pemrosesan. Kami telah mengasumsikan bahwa hari modal kerja TBLA sebagian besar akan tetap stabil. Kami juga mengasumsikan bahwa belanja modal akan tetap pada kisaran tahun 2020 untuk 3 tahun ke depan. TBLA bermaksud melakukan pengeluaran untuk perluasan kapasitas biodiesel dan produk minyak sawit hilir pada 2021, selain infrastruktur dasar, kelapa sawit, dan penanaman tebu. Kami mengekspektasi TBLA untuk mengambil lebih banyak proyek pada 2022 dan selanjutnya, berdasarkan rekam jejak perusahaan.



RINGKASAN DERIVASI

TBLA diperingkat jauh lebih rendah daripada Sime Darby Plantation Berhad (SDP, BBB/Negatif), yang profil kreditnya didasari oleh posisinya sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia berdasarkan area tertanam, dan produsen sustainable-oil terbesar. Area tertanam SDP lebih dari 10x dari TBLA dan tersebar di Malaysia, Indonesia, dan Papua Nugini. Hal ini mengurangi risiko terkait cuaca dan perubahan peraturan. Peringkat SDP juga diuntungkan oleh tanah yang luas di dekat area urban Malaysia, yang dapat diuangkan oleh perusahaan pada penilaian yang tinggi untuk mendukung likuiditas.


Peringkat Nasional TBLA lebih tinggi daripada peringkat nasional anak-anak perusahaan Golden Agri-Resources (GAR) – PT Ivo Mas Tunggal (IMT) dan PT Sawit Mas Sejahtera (SMS) – yang diperingkat pada ‘A-(idn)’/Stabil berdasarkan profil konsolidasi GAR. Leverage TBLA lebih rendah sekitar 2,0x, yang menyebabkan peringkatnya yang lebih tinggi terlepas dari skala yang lebih kecil; area tertanam GAR lebih dari 8x dan EBITDA 2020nya lebih dari 3x dari TBLA. Perbedaan peringkat juga memperhitungkan diversifikasi TBLA ke industri gula dan posisi biaya hulu yang lebih baik.


Kita juga dapat membandingkan TBLA dengan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (BB-/A+(idn)/Stabil), pesaing kunci pada industri pakan unggas dan peternakan unggas di Indonesia. Peringkat Japfa didukung oleh stabilitas penghasilan dari segmen pakan hewan, yang berkontribusi sekitar 30%-40% dari keseluruhan pendapatan. Hal ini dapat dibandingkan dengan segmen gula TBLA, yang berkontribusi 32% pada pendapatan 2020 dan secara signifikan mengimbangi segmen minyak sawit yang volatil. Namun, leverage 2020 TBLA lebih dari 1x lebih tinggi, yang menghasilkan peringkat yang lebih rendah untuk TBLA.



ASUMSI-ASUMSI UTAMA

Asumsi-asumsi utama Fitch dalam pemeringkatan untuk perusahaan:


- CAGR output CPO sebesar 15% selama 2021-2023


- CAGR volume penjualan gula sebesar 3% selama 2021-2023


- Rata-rata realisasi harga gula sekitar IDR10.600/kg selama 2021-2023


- Rata-rata belanja modal tahunan sekitar IDR1,4 triliun selama 2021-2023


- Total pembayaran dividend sekitar IDR560 miliar selama 2021-2023


Analisa pemulihan untuk surat utang dolar AS mengasumsikan bahwa TBLA akan dianggap sebagai going concern dalam peristiwa kebangkrutan dan bahwa perusahaan akan direstrukturisasi daripada dilikuidasi. Kami telah mengasumsikan klaim administrasi 10%.


Pendekatan Going-Concern (GC)


- EBITDA going concern diasumsikan sebesar IDR2,0 triliun, dengan diskon sekitar 20% dari EBITDA 2020 TBLA. Asumsi ini mempertimbangkan harga CPO dan gula yang lemah dan sedikit lebih tinggi daripada analisa kami sebelumnya sebesar IDR1,9 triliun untuk memperhitungkan peningkatan kapasitas selanjutnya.


- Kelipatan 5,0x diterapkan pada EBITDA going concern untuk menghitung nilai perusahaan pasca-reorganisasi. Kelipatan ini tidak berubah dari analisa kami sebelumnya.


- Kami telah menetapkan prioritas untuk IDR4,3 triliun utang dengan jaminan dan bagian jangka panjang dari uang muka pelanggan pada akhir 2020 dibandingkan utang tanpa jaminan sebesar IDR5,6 triliun, yang mencakup obligasi dolar AS dan Rupiah yang telah ada saat ini.


- Peringkat Recovery dari obligasi senior tanpa jaminan dolar AS dibatasi pada ‘RR4’, meskipun analisa kami menunjukkan peringkat yang lebih baik. Hal ini karena, di bawah kriteria Country-Specific Treatment of Recovery Ratings kami, Indonesia digolongkan dalam Kelompok Negara D dalam hal keramahan kreditor, dan peringkat instrumen dari emiten dengan aset yang terletak di kelompok negara ini tunduk kepada pembatasan pada ‘RR4’, atau secara efektif, pada IDR emiten.



SENSITIVITAS PERINGKAT

Faktor-faktor yang dapat, secara individu maupun kolektif, mengarah kepada tindakan pemeringkatan negatif:


- Leverage net debt/EBITDA tidak mengarah untuk mencapai sekitar 3,5x atau lebih rendah pada 2022. Kami telah memperpanjang jangka waktu dari 2021 mengingat risiko berkepanjangan atas struktur keuangan TBLA. Kami percaya kemampuan TBLA untuk menjaga leverage tetap terkendali hingga 2022, tahun di mana harga CPO akan lebih lemah, akan memberikan visibilitas yang lebih baik atas profil keuangan jangka panjang perusahaan.


- Coverage, yang diukur dengan EBITDA/bunga yang dibayarkan, di bawah 3,0x untuk periode yang berkepanjangan (2020: 3,1x)


- Pelemahan posisi likuiditas


- Memburuknya rezim regulasi untuk industri gula di Indonesia secara material yang mengakibatkan volume atau marjin EBITDA yang lebih lemah untuk TBLA


Faktor-faktor yang dapat, secara individu maupun kolektif, mengarah kepada tindakan pemeringkatan positif:


- Fitch dapat merevisi Outlook menjadi Stabil apabila kinerja perusahaan lebih baik daripada sensitivitas untuk tindakan pemeringkatan negatif



Skenario Pemeringkatan Terbaik/Terburuk

Peringkat Kredit Skala Internasional Korporsi Non Keuangan memiliki skenario kasus kenaikan peringkat terbaik (didefinisikan sebagai persentil ke-99 dari transisi peringkat, diukur dalam arah yang positif) yaitu tiga notch dalam kurun waktu tiga tahun; dan skenario kasus penurunan peringkat terburuk (didefinisikan sebagai persentil ke-99 dari transisi peringkat, diukur dalam arah negatif) yaitu empat notch dalam kurun waktu tiga tahun. Rentang peringkat kredit dari skenario kasus terbaik dan terburuk untuk semua kategori pemeringkatan berkisar dari ‘AAA’ hingga ‘D’. Peringkat kredit skenario kasus terbaik dan terburuk didasarkan pada kinerja historis. Untuk informasi lebih lanjut mengenai metodologi yang digunakan untuk menentukan peringkat kredit skenario kasus terbaik dan terburuk dalam sektor tertentu https://www.fitchratings.com/site/re/10111579



Likuiditas dan Struktur Utang

Likuiditas yang Dapat Dikelola: TBLA memiliki total utang senilai IDR9,7 triliun pada akhir 2020, tidak termasuk bagian jangka panjang dari uang muka pelanggan, di mana IDR1,9 triliun merupakan pinjaman jangka pendek dan IDR0,8 triliun adalah bagian jangka pendek dari utang jangka panjang. TBLA juga memiliki kas, termasuk rekening cadangan bunga untuk obligasi dolar AS, sebesar IDR0,6 triliun dan fasilitas kredit jangka pendek yang belum ditarik sebesar IDR2,0 triliun.


Kami mengekspektasi TBLA akan bergantung pada pembiayaan kembali untuk memenuhi jatuh tempo utang jangka panjangnya, berdasarkan perkiraan kami atas arus kas bebas yang negatif, sementara pinjaman jangka pendeknya, yang sebagian besar adalah untuk modal kerja, akan diperpanjang, sebagaimana telah terjadi pada 2020 dan sebelumnya. Kami percaya risiko likuiditas dimitigasi oleh fleksibilitas TBLA dalam mengurangi belanja modal pertumbuhannya, yang dapat mengembangkan ketersediaan kas untuk pembayaran utang, dan hubungan perbankannya yang luas. Kami juga mengekspektasi TBLA untuk membiayai kembali jatuh tempo obligasinya yang besar pada 2023 dalam 12 bulan ke depan.



Referensi untuk Sumber Materi Substansial dikutip sebagai Faktor- Faktor Penggerak Peringkat

Sumber-sumber informasi utama yang digunakan dalam analisis ini dijelaskan dalam daftar kriteria yang relevan pada laporan ini



RINGKASAN DARI PENYESUAIAN LAPORAN KEUANGAN

Penyesuaian keuangan yang material mencakup:


- Bagian jangka panjang dari uang muka pelanggan (2020: IDR277 miliar) telah dianggap sebagai utang, karena kami percaya terdapat biaya bunga implisit dalam bentuk diskon yang membuatnya serupa dengan utang dan sebuah pengganti atas pendanaan bank. Biaya transaksi dan penerbitan yang belum diamortisasi (2020: IDR65 milyar) juga telah ditambahkan kembali pada utang.


- Saldo kas yang dilaporkan sebagai kas yang dibatasi penggunaannya, sebagian besar terkait dengan rekening cadangan bunga untuk obligasi dolar AS, telah dianggap sebagai kas yang tersedia (2020: 123 milyar).


- Biaya dibayar di muka, uang muka untuk pembelian, aset biologis (pohon yang telah berproduksi tetapi belum dipanen), biaya akrual dan uang muka yang diterima dari pelanggan (termasuk bagian jangka panjang) telah diperhitungkan sebagai modal kerja.


- Laba bersih teratribusikan kepada kepentingan non-pengendali (2020: IDR2,7 miliar) telah dikurangi dari EBITDA.



Pertimbangan-Pertimbangan Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG)

TBLA memiliki Skor Relevansi ESG ‘4’ untuk Strategi Manajemen. Arus modal kerja perusahaan volatil, sementara belanja modal sering lebih tinggi daripada ekspektasi kami. Hal ini mengindikasikan beberapa kelemahan pada kontrol manajemen atas operasi dan tetap menjadi risiko untuk keuangan dan profil kredit keseluruhan TBLA, dalam hubungannya dengan faktor-faktor lain. Kecuali diungkapkan lain pada bagian ini, tingkat tertinggi dari relevansi kredit ESG adalah skor ‘3’. Hal ini berarti masalah-masalah ESG adalah netral terhadap kredit atau hanya memiliki dampak kredit yang minimal pada perusahaan, baik karena sifatnya atau cara pengelolaannya oleh perusahaan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Skor Relevansi ESG Fitch, kunjungi www.fitchratings.com/esg




PT Tunas Baru Lampung Tbk; Long Term Issuer Default Rating; Affirmed; B+; Rating Outlook Negative


TBLA International Pte. Ltd.


----senior unsecured; Long Term Rating; Affirmed; B+



Contacts:


Analis Utama


Akash Gupta,


Director


+65 6796 7242


Internasional


Fitch Ratings Singapore Pte Ltd.


One Raffles Quay #22-11, South Tower


Singapore 048583



Analis Utama


Felita Felita,


Senior Analyst


+62 21 2988 6817


Nasional


PT Fitch Ratings Indonesia


DBS Bank Tower 24th Floor, Suite 2403 Jl. Prof.Dr. Satrio Kav 3-5


Jakarta 12940



Analis Kedua


Felita Felita,


Senior Analyst


+62 21 2988 6817


Internasional



Ketua Komite


Vicky Melbourne,


Senior Director


+61 2 8256 0325



Media Relations: Leslie Tan, Singapore, Tel: +65 6796 7234, Email: leslie.tan@thefitchgroup.com



Informasi tambahan dapat diperoleh di www.fitchratings.com.


Applicable Model


Numbers in parentheses accompanying applicable model(s) contain hyperlinks to criteria providing description of model(s).


Corporate Monitoring & Forecasting Model (COMFORT Model), v7.9.0 (1)



Additional Disclosures


Solicitation Status


Additional Disclosures For Unsolicited Credit Ratings


Endorsement Status


Endorsement Policy



SEMUA PERINGKAT KREDIT FITCH TUNDUK PADA PEMBATASAN TERTENTU DAN DISCLAIMER. HARAP MEMBACA BATASAN DAN DISCLAIMER TERSEBUT DENGAN MENGIKUTI TAUTAN INI: HTTPS://WWW.FITCHRATINGS.COM/UNDERSTANDINGCREDITRATINGS. SELAIN ITU, HTTPS://WWW.FITCHRATINGS.COM/RATING-DEFINITIONS-DOCUMENT MENJELASKAN DETAIL DEFINISI PERINGKAT FITCH UNTUK SETIAP SKALA RATING DAN KATEGORI PERINGKAT, TERMASUK DEFINISI YANG BERKAITAN DENGAN DEFAULT. PERINGKAT YANG DIPUBLIKASIKAN, KRITERIA, DAN METODOLOGI TERSEDIA DARI SITUS INI SETIAP SAAT. PEDOMAN PERILAKU FITCH, KERAHASIAAN, KONFLIK KEPENTINGAN, AFILIASI FIREWALL, KEPATUHAN, DAN KEBIJAKAN DAN PROSEDUR RELEVAN LAINNYA JUGA TERSEDIA DARI BAGIAN PEDOMAN PERILAKU SITUS INI. KEPENTINGAN RELEVAN DIREKTUR DAN PEMEGANG SAHAM TERSEDIA DI HTTPS://WWW.FITCHRATINGS.COM/SITE/REGULATORY. FITCH MUNGKIN TELAH MENYEDIAKAN LAYANAN LAIN YANG DIIZINKAN KEPADA ENTITAS YANG BERPERINGKAT ATAU PIHAK KETIGA TERKAIT DARI ENTITAS TERSEBUT. RINCIAN LAYANAN INI UNTUK ANALIS UTAMA YANG BERADA DI DALAM PERUSAHAAN FITCH RATINGS (ATAU CABANG PERUSAHAAN TERSEBUT) YANG TERDAFTAR DALAM ESMA ATAU FCA DAPAT DITEMUKAN DI HALAMAN RINGKASAN ENTITAS UNTUK PENERBIT INI DI SITUS FITCH RATINGS.

Terus membaca
Masuk atau mendaftar akun gratis TradingView dan nikmati akses tanpa batasan ke berita keuangan global, secara real-time.