ReutersReuters

Fitch Menurunkan Wijaya Karya ke ‘A-(idn)’, Afirmasi ‘BB-‘; Mengeluarkan RWN; Outlook Negatif


(The following statement was released by the rating agency)


Fitch Ratings-Singapore/Jakarta-22 October 2020:

Fitch Ratings Indonesia telah menurunkan Peringkat Nasional Jangka Panjang PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) ke ‘A-(idn)’ dari ‘A(idn)’. Pada saat bersamaan, Fitch Ratings telah mengafirmasi Peringkat Jangka Panjang Mata Uang Asing dan Mata Uang Lokal Issuer Default Ratings (IDR) di ‘BB-‘. Semua peringkat dikeluarkan dari Rating Watch Negatif (RWN), yang sebelumnya ditempatkan di RWN pada 10 September 2020. Outlook adalah Negatif.


Afirmasi mengikuti pandangan Fitch akan hubungan perusahaan dengan pemerintah. Fitch telah merevisi kekuatan dan insentif dari pemerintah untuk memberikan dukungan, tetapi skor total Government-Related Entity (GRE) tetap 15 dibawah kriteria GRE. IDR tetap mendapatkan penambahan tiga notch dari Standalone Credit Profile (SCP) internasional WIKA di ‘b-‘. Namun, pelemahan pada kekuatan dukungan telah mengakibatkan revisi menjadi pengangkatan tiga notch dari SCP nasional di ‘bbb-(idn)’, dari sebelumnya empat notch, yang berakibat pada penurunan Peringkat Nasional Jangka Panjang. Fitch telah merevisi faktor rekam jejak dan ekspektasi dukugan ke ‘Lemah’ dari ‘Kuat’ karena Fitch melihat dukungan pemerintah, walaupun tetap berlanjut, tidak dapat mempertahankan profil kredit WIKA pada saat pandemi, dimana direfleksikan oleh pelemahan pada SCP. Namun, ini diimbangi dengan revisi pada faktor implikasi finansial apabila terjadi gagal bayar – dimana memiliki bobot skor lebih tinggi – menjadi ‘Moderat’ dari ‘Lemah’ karena Fitch melihat gagal bayar pada WIKA dapat berdampak secara moderat terhadap beban pendanaan pada perusahaan milik negara lainnya karena WIKA memiliki jumlah utang yang tinggi dan eksposur ke investor global dan domestik.


Outlook Negatif merefleksikan gangguan pada operasional karena pandemi, sehingga Fitch memproyeksikan leverage, yang diukur dengan debt net of seasonally adjusted cash/EBITDA, mencapai 14,0x di 2020, dan membaik ke bawah 6,0x – tingkat dimana sesuai dengan peringkatnya – pada tahun 2022. Namun, kecepatan deleveraging bergantung pada meredanya dampak pandemi.


Peringkat nasional di kategori ‘A’ menunjukkan ekspektasi akan resiko gagal bayar yang rendah relatif terhadap emiten atau surat utang lainnya di Indonesia.



FAKTOR-FAKTOR PENGGERAK PERINGKAT

Ekspektasi Dukungan ‘Lemah’: Fitch telah merevisi rekam jejak dan ekspektasi dukungan WIKA menjadi ‘Lemah’ dari ‘Kuat’, karena Fitch melihat dukungan pemerintah tidak dapat mempertahankan profil kredit yang lebih kuat. Ini mengikuti revisi pada SCP WIKA menjadi ‘b-‘, dari ‘b’ pada 10 September 2020 karena meningkatnya leverage untuk mendanai proyek-proyeknya. Likuiditas perusahaan, yang sudah melemah karena pandemi, dapat tertekan lebih jauh kecuali apabila pemerintah dapat memberikan dukungan yang tepat waktu untuk memperkuat profil keuangan WIKA.


Pemerintah memperkuat likuiditas WIKA melalui suntikan dana sebesar IDR4 triliun di 2016. Namun, sejak itu, perusahaan bergantung pada pendanaan eksternal untuk mendanai proyeknya, termasuk dengan hubungannya yang kuat dengan bank milik negara. Fitch percaya pemerintah akan terus memprioritaskan infrastruktur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi apabila pandemi telah mereda, seperti yang telah direfleksikan pada alokasi anggaran negara sebesar IDR414 triliun untuk infrastruktur di tahun 2021, dimana Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat akan mendapat peningkatan anggaran ke IDR150 triliun dari sebelumnya terjadi pemotongan anggaran ke IDR76 triliun di 2020.


Implikasi Finansial Apabila Gagal Bayar ‘Moderat’: Fitch telah menilai ulang dampak finansial apabila WIKA default menjadi ‘Moderat’, dari ‘Lemah’ karena Fitch melihat gagal bayar pada WIKA dapat memberikan dampak yang moderat terhadap ketersediaan dan beban pendanaan kepada perusahaan milik negara lainnya. Pemerintah bergantung pada WIKA yang meminjamkan neracanya untuk kontruksi pembangunan infrastruktur dan gagal bayar dapat berakibat pada pelemahan akses pemerintah terhadap pendanaan yang berhubungan dengan infrastruktur. Revisi ini memberikan penambahan skor dukungan sebesar 5.0.


WIKA juga dilihat sebagai proxy untuk investor domestik dan asing karena statusnya sebagai pemimpin dalam memfasilitasi agenda infrastruktur negara. WIKA memiliki orderbook terbesar dibandingkan dengan kontraktor milik negara lainnya dan memiliki utang yang tinggi di pasar domestik dan internasional. WIKA juga merupakan salah satu yang pertama dalam menerbitkan Komodo bonds Indonesia di pasar internasional.


Gangguan pada Operasional: Fitch mengestimasi nilai kontrak baru WIKA di 2020 akan jatuh sekitar 60% ke IDR17 triliun dan pendapatan akan jatuh sebesar 45% karena gangguan pada bisnis dalam jangka pendek yang signifikan diakibatkan oleh pandemi coronavirus dan perlambatan aktivitas tender dan konstruksi. Tender proyek baru akan turun karena pandemi akan berdampak negatif pada aktivitas bisnis, sedangkan konstruksi juga akan melambat karena kebijakan social-distancing.


Investasi Meningkatkan Leverage: Fitch mengekspektasikan leverage akan meningkat ke sekitar 14,0x dari 3,6x di 2019 karena pandemi telah mengakibatkan perlambatan pada progres koleksi kas. Leverage dapat membaik ke 6,2x di 2021 dan dapat bertahan di sekitar 5,0x-5,5x dalam jangka menengah karena peran WIKA dalam terhadap program infrastruktur negara dimana akan meningkatkan investasi dan belanja modal. WIKA akan mempercepat pembangunan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda di semester-I 2020 dan Fitch melihat WIKA akan tetap bergantung pada utang untuk mendanai arus kas bebas negatif yang berhubungan dengan kontrak dari pemerintah.


Status Kepemilikan dan Kendali "Kuat": Fitch menilai status kepemilikan dan kendali dari WIKA sebagai "Kuat". Pemerintah Indonesia memiliki 65% kepemilikan di WIKA melalui Kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan memiliki peran yang kuat dalam keputusan investasi, strategis, dan operasional perusahaan. Pemerintah memiliki saham dwiwarna yang memberikan hak veto pada keputusan penting seperti mengenai pemilihan dan pemecatan dari anggota direksi, distribusi keuntungan dan akuisisi.


Kepentingan Sosial Politik "Moderat": Fitch menilai dampak sosial politik bilamana terjadi gagal bayar atas WIKA sebagai 'Moderat' karena pembangunan infrastruktur merupakan fondasi dari target pertumbuhan ekonomi pemerintah dan agenda urbanisasi. Fitch melihat perusahaan kontraktor yang dimiliki negara atau swasta dapat menggantikan jasa WIKA apabila terjadi gagal bayar, tapi dapat terjadi gangguan sementara karena WIKA memiliki orderbook yang signifikan sebesar IDR80 triliun pada akhir Juni 2020, yang tertinggi dibandingkan kontraktor milik negara lainnya dimana 40% adalah untuk proyek strategis nasional.



RINGKASAN DERIVASI

Penilaian Fitch terhadap dukungan negara kepada WIKA dapat dibandingkan dengan peers Indonesia seperti PT Hutama Karya (Persero) (BBB-/AA+(idn)/Stabil; SCP: b-/bb+(idn)) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) (Inalum, BBB-/Stabil, SCP: b-), dan juga perusahaan konstruksi di Cina seperti China Railway Group Limited (CRG; A-/Stabil, SCP: bb-) and Shanghai Construction Group Co., Ltd. (SCGC; BBB+/Stabil, SCP: bbb-).


HK dan Inalum diperingkat menggunakan pendekatan top-down dan diperingkat satu notch dibawah peringkat negara dengan perolehan skor dukungan GRE sebesar 35. Fitch menilai perbedaan utama antara Inalum dan WIKA adalah gagal bayar pada Inalum dapat memiliki implikasi yang "Sangat Kuat" pada beban bunga dan ketersediaan pendanaan terhadap pemerintah Indonesia dan BUMN lainnya, karena Fitch menilai investor akan melihat Inalum sebagai proxy sarana pendanaan untuk negara.


Fitch menilai HK memiliki faktor Status, Kepemilikan, dan Kendali dan Rekam Jejak dan Ekspektasi Dukungan yang ‘Sangat Kuat’, dibandingkan WIKA yang memiliki dukungan ‘Kuat’ dan ‘Lemah’ secara berurutan, untuk merefleksikan peranan dan pengaruh pemerintah yang lebih tinggi dalam operasional perusahaan, terutama dalam pembangunan jalan tol Trans Sumatera. HK juga telah menerima dukungan dengan frekuensi lebih tinggi untuk proyek jalan tolnya. Gagal bayar pada HK akan mengakibatkan dampak yang signifikan terhadap ketersediaan dan beban bunga untuk opsi pendanaan domestik dan asing pemerintah, terutama karena sebagian besar dari utang HK dijamin oleh Pemerintah.


CRG, yang memiliki skor dukungan GRE sebesar 30, diperingkat secara top-down dan berada dua notch dibawah peringkat negara Cina (A+/Stabil). Fitch menilai dampat dari sosial politik dan finansial apabila CRG gagal bayar sebagai ‘Kuat’, dibandingkan dengan ‘Moderat’ untuk WIKA. Fitch melihat default pada CRG dapat secara berdampak secara signifikan terhadap rencana pembangunan rel kereta api Cina, dimana ini sangat penting terhadap target urbanisasi dan geopolitik negara. CRG juga merupakan penerbit obligasi domestik dan internasional yang aktif dan Fitch percaya gagal bayar dapat mengurangi akses ke pasar modal untuk negara dan perusahaan milik negara lainnya.


SCG diperingkat menggunakan pendekatan bottom-up dengan pengangkatan dua notch dari SCPnya di ‘bbb-‘ karena memiliki total skor Government-related entity di 15, sama seperti WIKA. Namun, Fitch memberikan pengangkatan tiga notch dari SCP WIKA karena Fitch melihat WIKA secara strategis lebih penting kepada pemerintah Indonesia. Default pada SCG dapat mengganggu proyek-proyek konstruksi di Shanghai, tetapi dampak pada sosial akan terbatas karena tingkat urbanisasi yang tinggi di kota tersebut. Default pada WIKA dapat menyebabkan dampak yang lebih tinggi terhadap rencana pembangunan infastruktur Indonesia.


Pada skala nasional, Fitch memberikan WIKA pengangkatan tiga notch terhadap SCP setelah membandingkan dengan peers nasional, seperti PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT, CCC+(idn), SCP: cc(idn)), dimana memiliki perolehan skor dukungan yang sama di 15 dan mendapatkan pengangkatan tiga notch. Fitch menilai perbandingan yang sama untuk kekuatan dan insentif untuk memberikan dukungan kepada kedua perusahaan tersebut dan oleh karena itu diperingkat dengan pendekatan bottom up ditambah tiga notch. Stabilitas dan viabilitas kedua perusahaan telah melemah dalam periode yang berkelanjutan karena pelemahan pada dukungan negara, tetap kedua perusahaan memiliki peranan yang penting terhadap program infrastruktur pemerintah dan merupakan penerbit utang yang aktif di pasar modal domestik, termasuk pada pasar modal internasional untuk WIKA.


SCP WIKA dapat dibandingkan dengan perusahaan konstruksi global, seperti CRG di Cina, dan juga Infrastructure and Energy Alternatives, Inc. (IEA; B-/Stabil) and Tutor Perini Corporation (TUT, B+/Stabil) yang berdomisili di Amerika Serikat.


CRG memiliki skala operasional yang lebih besar dan profil finansial yang lebih kuat dari WIKA. Faktor tersebut ditambah dengan difersivikasi geografis dan produk yang lebih baik mengakibatkan SCP CRG memiliki peringkat beberapa notch lebih tinggi dari WIKA.


IEA memiliki profil finansial yang lebih kuat dari WIKA. Fitch memproyeksikan leverage IEA, yang diukur dengan net debt/EBITDA, akan dibawah 1x dalam empat tahun kedepan. IEA juga memiliki penghasilan arus kas bebas yang lebih kuat. Namun, Fitch melihat ini diimbangi oleh WIKA yang memiliki skala operasional yang lebih besar, marjin profitabilitas yang lebih baik, dan IEA yang memiliki risiko eksekusi proyek yang lebih tinggi karena kontraknya yang fixed-price sehingga dapat mengurangi fleksibilitas operasional apabila terjadi cost overrun. Fitch menilai faktor-faktor tersebut membuat peringkat IEA memiliki tingkat yang sama dengan SCP WIKA.


WIKA dan TUT memiliki posisi yang kuat dalam pasar masing-masing dan memiliki skala operasional EBITDA yang sama. WIKA memiliki marjin laba yang lebih tinggi, namun Fitch melihat eksposur TUT terhadap pasar industri konstruksi di Amerika Serikat yang lebih matang dan kemampuan untuk mengendalikan arus kas yang menghasilkan arus kas bebas yang lebih kuat. Faktor-faktor tersebut ditambah dengan ekspektasi Fitch dimana TUT akan memiliki profil finansial yang lebih kuat dalam tiga tahun kedepan, mengakibatkan perbedaan dua notch dalam penilaian profil kredit kedua perusahaan tersebut.


Peringkat Nasional SCP WIKA lebih kuat dibandingkan WSKT, dimana WSKT melakukan porsi kontrak turnkey yang lebih besar untuk mendukung negara dan merupakan salah satu investor terbesar di jalan tol dengan periode payback yang lebih panjang. Hal tersebut mengakibatkan WSKT memiliki leverage yang lebih tinggi dan interest coverage yang lebih lemah dari WIKA. Perbedaan beberapa notch juga merefleksikan likuiditas WSKT yang lebih lemah. Peringkat Nasional SCP WIKA juga lebih kuat dari HK. Fitch melihat skala operasional WIKA yang lebih kecil dapat diimbangi dengan profil finansial yang lebih kuat, operasional yang memiliki keperluan modal lebih rendah, dan difersivikasi proyek yang lebih baik.



ASUMSI-ASUMSI UTAMA

Asumsi utama dari Fitch yang digunakan untuk rating case perusahaan termasuk:


- Kontrak baru sebesar IDR17 triliun di 2020 dan IDR35 triliun di 2021 (2019: IDR41 triliun)


- Marjin EBITDA, termasuk porsi laba dari joint operations, sekitar 8% di 2020 dan 11% di 2021 (2019: 15%)


- Total belanja modal dan investasi sekitar IDR2,3 triliun in 2020



SENSITIVITAS PERINGKAT

Faktor-faktor yang dapat, secara individual atau kolektif, mengarah pada tindakan pemeringkatan positif/peningkatan peringkat:


- Perbaikan pada leverage WIKA, yang diukur dengan debt net of seasonally adjusted cash/EBITDA, menjadi lebih rendah dari 6x secara berkelanjutan


- Menguatnya kemungkinan dukungan dari pemerintah Indonesia


Faktor-faktor yang dapat, secara individual atau kolektif, mengarah pada tindakan pemeringkatan negatif/penurunan peringkat:


- Pelemahan pada leverage WIKA menjadi diatas 6x secara berkelanjutan


- Melemahnya kemungkinan dukungan dari pemerintah Indonesia



Skenario Pemeringkatan Terbaik/Terburuk

Peringkat Kredit Skala Internasional Korporsi Non Keuangan memiliki skenario kasus kenaikan peringkat terbaik (didefinisikan sebagai persentil ke-99 dari transisi peringkat, diukur dalam arah yang positif) yaitu tiga notch dalam kurun waktu tiga tahun; dan skenario kasus penurunan peringkat terburuk (didefinisikan sebagai persentil ke-99 dari transisi peringkat, diukur dalam arah negatif) yaitu empat notch dalam kurun waktu tiga tahun. Rentang peringkat kredit dari skenario kasus terbaik dan terburuk untuk semua kategori pemeringkatan berkisar dari ‘AAA’ hingga ‘D’. Peringkat kredit skenario kasus terbaik dan terburuk didasarkan pada kinerja historis. Untuk informasi lebih lanjut mengenai metodologi yang digunakan untuk menentukan peringkat kredit skenario kasus terbaik dan terburuk dalam sektor tertentu https://www.fitchratings.com/site/re/10111579



Likuiditas dan Struktur Utang

Resiko Pembiayaan Kembali yang Terkendali: Fitch melihat likuiditas jangka pendek WIKA didukung oleh resiko pembiayaan kembali perusahaan yang terkendali karena hubungan yang kuat dengan bank-bank milik negara dan swasta. WIKA memiliki utang signifikan yang akan jatuh tempo dalam enam bulan kedepan, termasuk Komodo bond sebesar IDR5,4 triliun yang akan jatuh tempo di Januari 2021. WIKA berencana untuk membiayai kembali Komodo bond melalui obligasi domestik dan bridging loans, terutama dari bank-bank milik negara.


WIKA memiliki kas sebesar IDR7,1 triliun pada akhir Juni 2020 dan fasilitas pinjaman yang belum ditarik sebesar IDR5,4 triliun, yang sebagian dapat digunakan untuk pembayaran utang yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan kedepan sebesar IDR20,7 triliun. Ini termasuk Komodo bond sebesar IDR5,4 triliun, medium-term notes sebesar IDR750 miliar yang jatuh tempo di Oktober-November 2020, medium-term notes sebesar IDR205 miliar yang akan jatuh tempo di Februari 2021 dan utang modal kerja jangka pendek dan fasilitas supply chain financing sebesar IDR14,3 triliun.


Fitch memperkirakan pinjaman modal kerja jangka pendek akan di roll-over oleh bank dalam kondisi bisnis normal karena profil kredit WIKA yang baik dan hubungan yang kuat dengan bank milik pemerintah. Fitch percaya profil utang jatuh tempo perusahaan akan menjadi lebih panjang apabila pembiayaan kembali dapat dilakukan, yang akan memberikan fleksibilitas yang lebih tinggi untuk mengendalikan arus kas dan memperkuat likuiditas. Roll-over pada utang modal kerja juga akan membebaskan kas untuk mendanai proyeksi belanja modal sebesar IDR2 triliun-3 triliun di 2020 apabila diperlukan. Namun, likuiditas tetap merupakan faktor utama dan kegagalan untuk mengatasi utang yang akan jatuh tempo akan berakibat ke tindakan pemeringkatan negatif



Referensi untuk Sumber Materi Substansial dikutip sebagai Faktor- Faktor Penggerak Peringkat

Sumber-sumber informasi utama yang digunakan dalam analisis ini dijelaskan dalam daftar kriteria yang relevan pada laporan ini.



RINGKASAN DARI PENYESUAIAN LAPORAN KEUANGAN

- Bagian laba dari joint operation diperhitungkan dalam EBITDA karena ini merupakan bagian dari bisnis inti WIKA


-Supply chain financing dengan jatuh tempo lebih dari 90 hari diperhitungkan sebagai utang karena ini memperpanjang silklus normal utang usaha


- Fitch mengurangi IDR4 triliun dari posisi akhir tahun kas, karena ini adalah perbedaan antara posisi akhir tahun kas dan rata-rata posisi kas pada tiga kuartal pertama. Ini adalah untuk menghilangkan variasi siklus pada modal kerja yang berdampak pada leverage



Pertimbangan-Pertimbangan Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG)

Skor tertinggi pada relevasi kredit ESG adalah 3. Ini berarti ESG merupakan netral terhadap kredit dan hanya memiliki pengaruh minimal terhadap kredit perusahaan, karena sifatnya atau cara perusahaan mengelola hal tersebut. Untuk melihat informasi lebih lanjut mengenai ESG Relevance Scores, dapat diperoleh di www.fitchratings.com/esg.




PT Wijaya Karya (Persero) Tbk; Long Term Issuer Default Rating; Affirmed; BB-; Rating Outlook Negative


; Local Currency Long Term Issuer Default Rating; Affirmed; BB-; Rating Outlook Negative


----senior unsecured; Long Term Rating; Affirmed; BB-; Rating Watch Off



Contacts:


Analis Utama


Kah Ling Chan,


Senior Director


+65 6796 2711


Internasional


Fitch Ratings Singapore Pte Ltd.


One Raffles Quay #22-11, South Tower


Singapore 048583



Analis Utama


Salman Alamsyah,


Associate Director


+62 21 2988 6818


Nasional


PT Fitch Ratings Indonesia


DBS Bank Tower 24th Floor, Suite 2403 Jl. Prof.Dr. Satrio Kav 3-5


Jakarta 12940



Analis Kedua


Salman Alamsyah,


Associate Director


+62 21 2988 6818


Internasional



Ketua Komite


Vicky Melbourne,


Senior Director


+61 2 8256 0325



Media Relations: Leslie Tan, Singapore, Tel: +65 6796 7234, Email: leslie.tan@thefitchgroup.com



Informasi tambahan dapat diperoleh di www.fitchratings.com.



Applicable Criteria


Corporate Hybrids Treatment and Notching Criteria (pub. 11 Nov 2019)


Corporate Rating Criteria (pub. 01 May 2020) (including rating assumption sensitivity)


Corporates Notching and Recovery Ratings Criteria (pub. 14 Oct 2019) (including rating assumption sensitivity)


Country-Specific Treatment of Recovery Ratings Rating Criteria (pub. 27 Feb 2020)


Government-Related Entities Rating Criteria (pub. 30 Sep 2020)


National Scale Rating Criteria (pub. 08 Jun 2020)


Sector Navigators - Addendum to the Corporate Rating Criteria (pub. 26 Jun 2020)



Additional Disclosures


Solicitation Status


Endorsement Status


Endorsement Policy



Peringkat kredit diterbitkan oleh anak perusahaan lembaga pemeringkat Fitch Ratings, Inc., yang merupakan entitas yang terdaftar di the U.S. Securities and Exchange Commission sebagai organisasi pemeringkat statistik yang diakui secara nasional (Nationally Recognized Statistical Rating Organization (“NRSRO”)). Akan tetapi, anak perusahaan pemeringkat kredit ini tidak terdaftar dalam Butir 3 Form NRSRO (lihat https://www.fitchratings.com/site/regulatory), sehingga tidak berwenang untuk menerbitkan peringkat-peringkat kredit atas nama NRSRO.

Terus membaca
Masuk atau mendaftar akun gratis TradingView dan nikmati akses tanpa batasan ke berita keuangan global, secara real-time.