04:36Sep 11, 2020Reuters

Fitch Menurunkan Peringkat Wijaya Karya ke ‘BB-‘/’A(idn)’; Rating Watch Negatif


(The following statement was released by the rating agency)


Fitch Ratings-Singapore/Jakarta-11 September 2020:

Fitch Ratings telah menurunkan Peringkat Jangka Panjang Mata Uang Asing dan Mata Uang Lokal Issuer Default Rating (IDR) perusahaan konstruksi milik negara PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) ke ‘BB-‘ dari ‘BB’. Pada saat bersamaan, Fitch Ratings Indonesia telah menurunkan Peringkat Nasional Jangka Panjang WIKA ke’A(idn)’, dari ‘AA-(idn)’. Semua peringkat ditempatkan dalam Rating Watch Negatif (RWN).


Penurunan peringkat mengikuti aksi revisi Fitch untuk Standalone Credit Profile (SCP) WIKA ke ‘b-‘ dan ‘bbb-(idn)’, dari ‘b’ dan ‘bbb+(idn)’, secara berurutan. Ini merefleksi performa kuartal-II perusahaan yang secara signifikan lebih lemah dari ekspektasi Fitch, dimana leverage (diukur dengan net debt/EBITDA) meningkat diatas 5x; tingkat dimana Fitch dapat melakukan aksi pemeringkatan negatif. Fitch memproyeksikan leverage akan tetap tinggi dalam beberapa tahun kedepan.


RWN merefleksikan potensi penilaian ulang pandangan Fitch terhadap hubungan dengan Pemerintah. Profil finansial WIKA telah melemah dan Fitch melihat kredit metriks akan tertekan dalam jangka menengah karena perlambatan ekonomi sebagai dampak dari pandemi coronavirus, yang juga direfleksikan oleh revisi SCP WIKA. WIKA, bersama dengan perusahaan konstruksi milik negara lainnya, terakhir mendapatkan dukungan nyata dari pemerintah di 2016. Bantuan yang diberikan pemerintah berhubungan dengan pandemi adalah sekitar IDR695 triliun, atau 4,4% dari GDP, yang mencakup bantuan langsung tunai, penyediaan makanan, penjaminan and insentif pajak. Namun, WIKA masih belum menerima dukungan meskipun profil finansial telah melemah. Oleh karena itu, Fitch sedang meninjau dukungan pemerintah untuk melihat apabila telah terjadi pelemahan.


Peringkat IDR perusahaan mendapatkan penambahan tiga notch dari SCP karena kepentingan strategis perusahaan terhadap program infrastruktur Indonesia. Skor dukungan WIKA dibawah kriteria Government-Related Entities Rating Criteria adalah 15, dimana dengan perbedaan tujuh notch antara SCP WIKA dan peringkat negara (BBB/Stabil), dapat memberikan pengangkatan peringkat dua atau tiga notch dalam IDR WIKA. Fitch telah memilih penambahan tiga notch karena status WIKA sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) konstruksi terbesar di Indonesia dengan rekam jejak yang kuat dalam mengeksekusi proyek strategis infrastruktur yang besar. Perusahaan BUMN mendominasi program infrastruktur negara dimana harus mengatasi tantangan regulasi dan birokrasi dan juga membutuhkan investasi dalam proyek-proyek dengan periode payback yang panjang atas nama pemerintah. Sebagai tambahan, pemain juga harus mengeksekusi kontrak-kontrak turnkey dimana pembayaran hanya akan dilakukan ketika proyek selesai, dimana ini memberikan tekanan kepada finansial perusahaan. Oleh karena itu perusahaan swasta dan asing tidak banyak mengambil proyek-proyek negara dan meningkatkan ketergantungan pemerintah, dan juga menambah kepentingan, untuk pemain besar seperti WIKA.


Sesuai dengan kebijakan Fitch, perusahaan mengajukan banding dan memberikan informasi tambahan kepada Fitch yang mengakibatkan hasil aksi pemeringkatan yang berbeda dengan hasil pertama komite pemeringkatan.


Peringkat nasional di kategori ‘A’ menunjukkan ekspektasi akan resiko gagal bayar yang rendah relatif terhadap emiten atau surat utang lainnya di Indonesia.



FAKTOR-FAKTOR PENGGERAK PERINGKAT

Potensi Penilaian Ulang pada Ekspektasi Dukungan: Fitch menilai rekam jejak dan ekspektasi dukungan WIKA sebagai ‘Kuat’, berdasarkan perannya yang strategis, namun RWN merefleksikan potensi penilaian ulang karena pelemahan dukungan pemerintah dengan melemahnya profil kredit metriks WIKA. Pemerintah terakhir memberikan dukungan nyata berupa suntikan modal sebesar IDR4 triliun di 2016 untuk mendukung pertumbuhan order-book WIKA dan eksekusi proyek-proyek strategis yang signifikan. Metriks kredit WIKA telah melemah di tahun 2020 karena pandemi, namun Fitch belum melihat adanya dukungan sehingga harus kembali menilai kemampuan dan kesiapan negara untuk dapat memberikan dukungan yang konsisten.


Gangguan pada Operasional: Fitch mengestimasi nilai kontrak baru WIKA di 2020 akan jatuh sekitar 60% ke IDR17 triliun dan pendapatan akan jatuh sebesar 45% karena gangguan pada bisnis dalam jangka pendek yang signifikan diakibatkan oleh pandemi coronavirus dan perlambatan aktifitas tender dan konstruksi. Tender proyek baru akan turun karena pandemi akan berdampak negatif pada aktifitas bisnis, sedangkan konstruksi juga akan melambat karena kebijakan social-distancing.


Investasi Meningkatkan Leverage: Fitch mengekspektasikan leverage akan meningkat ke sekitar 14,0x di 2020 (2019: 3,6x) karena pandemi, lalu membaik ke 6,2x di 2021. Leverage dapat bertahan di sekitar 5,0x-5,5x dalam jangka menengah karena peran WIKA dalam terhadap program infrastruktur negara dimana akan meningkatkan investasi dan belanja modal dalam beberapa tahun kedepan. Pekerjaan kontrak baru yang tertunda di semester-I 2020 akan kembali mulai secara bertahap dan WIKA akan mempercepat konstruksi untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, sehingga meningkatkan proyek yang terselesaikan di 2021. Fitch melihat WIKA akan tetap bergantung pada utang untuk mendanai arus kas bebas negatif yang berhubungan dengan kontrak dari pemerintah.


Resiko Terhadap Proyeksi: Rating Case mengasumsi aktifitas bisnis akan meningkat dari akhir 2020 sehingga tender proyek akan kembali berlanjut di 2021, dimana akan mendorong pertumbuhan kontrak baru perusahaan. Namun, pandemi yang berkepanjangan akan membuat pemerintah dapat merealokasi dana dari proyek-proyek infrastruktur untuk mendukung perlawanan terhadap virus dan mengakibatkan perusahaan swasta untuk menunda aktifitas ekspansi. Ini dapat mengurangi jumlah nilak kontrak yang akan ditenderkan dan berdampak terhadap profil finansial WIKA dalam jangka yang lebih panjang.


Resiko lain terhadap proyeksi jangka menengah Fitch adalah ketidakpastian dari pemulihan pada industri karena dampak penurunan pada ekonomi yang tidak biasa, terutama adanya kemungkinan second wave pada pandemi dan kembalinya diberlakukan kebijakan lockdown yang lebih ketat.


Status Kepemilikan, Rekam Jejak Dukungan "Kuat": Fitch menilai status kepemilikan dan kendali dari WIKA sebagai "Kuat". Indonesia memiliki 65% kepemilikan di WIKA melalui Kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan memiliki peran yang kuat dalam keputusan investasi, strategis, dan operasional perusahaan. Pemerintah memiliki saham dwiwarna yang memberikan hak untuk veto pada keputusan penting seperti mengenai pemilihan dan pemecatan dari anggota direksi, distribusi keuntungan dan akuisisi.


Kepentingan Sosial Politik "Moderat": Fitch menilai dampak sosial politik bilamana terjadi default atas WIKA sebagai 'Moderat' karena pembangunan infrastruktur merupakan fondasi dari target pertumbuhan ekonomi pemerintah dan agenda urbanisasi. Walaupun bukan bersifat layanan yang penting seperti makanan dan utilitas, Fitch melihat implikasi tidak ‘Lemah’ karena perusahaan meminjamkan neraca kepada proyek infrastruktur pemerintah, dimana WIKA membiayai modal kerja terlebih dahulu sehingga proyek infrastruktur kunci pemerintah dapat selesai dengan tepat waktu. Oleh karena itu, WIKA memiliki kepentingan yang tinggi terhadap program infrastruktur pemerintah.


Implikasi Finansial Apabila Default yang "Lemah": Fitch melihat default pada WIKA hanya akan memiliki dampak yang minimal pada negara dan BUMN lainnya dalam mencari pendanaan. WIKA hanya memiliki eksposur yang terbatas di pasar modal, yang hanya melalui penerbitan obligasi Komodo. Namun, Fitch dapat menilai ulang faktor ini apabila ada bukti bahwa default WIKA dapat memberikan dampak yang moderat terhadap aktifitas pencarian dana untuk BUMN lainnya.



RINGKASAN DERIVASI

Penilaian Fitch terhadap dukungan negara kepada WIKA dapat dibandingkan dengan PT Hutama Karya (Persero) (BBB-/AA+(idn)/Stabil; SCP: b, bb+(idn)), PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) (Inalum, BBB-/Stabil, SCP: b-), China Railway Group Limited (CRG; A-/Stabil, SCP: bb-) and Shanghai Construction Group Co., Ltd. (SCGC; BBB+/Stabil, SCP: bbb-).


HK dan Inalum diperingkat menggunakan pendekatan top-down dan diperingkat satu notch dibawah peringkat negara dengan perolehan skor dukungan GRE sebesar 35.


Fitch menilai HK memiliki faktor ‘Status, Kepemilikan, dan Kendali’ dan ‘Rekam Jejak dan Ekspektasi Dukungan’ yang ‘Sangat Kuat’ karena pengaruh pemerintah yang lebih tinggi dalam operasional perusahaan. HK juga telah menerima dukungan dengan frekuensi lebih tinggi untuk proyek jalan tol Trans Sumatera dibandingkan WIKA. Fitch melihat default pada HK akan mengakibatkan dampak yang signifikan terhadap ketersediaan dan beban bunga untuk opsi pendanaan domestik dan asing pemerintah, terutama karena sebagian besar dari utang HK dijaminkan oleh Pemerintah.


Fitch menilai Perbedaan kunci antara Inalum dan WIKA adalah default pada Inalum dapat memiliki implikasi yang "Sangat Kuat" pada beban bunga dan ketersediaan pendanaan terhadap pemerintah Indonesia dan BUMN lainnya, karena Fitch menilai investor akan melihat Inalum sebagai proxy sarana pendanaan untuk negara.


SCGC diperingkat menggunakan pendekatan bottom-up dengan pengangkatan dua notch dari SCP karena memiliki total skor Government-related entity di 15, sama seperti WIKA. Namun, Fitch memberikan pengangkatan tiga notch dari SCP WIKA karena Fitch melihat WIKA secara strategis lebih penting kepada pemerintah Indonesia. Default pada SCGC dapat mengganggu proyek-proyek konstruksi di Shanghai, tetapi dampak pada sosial akan terbatas karena tingkat urbanisasi yang tinggi di kota tersebut. Default pada WIKA dapat menyebabkan dampak yang lebih tinggi terhadap rencana pembangunan infastruktur Indonesia.


Peringkat Nasional Jangka Panjang WIKA dapat dibandingkan dengan PT Pupuk Indonesia (Persero) (PTPI; AAA(idn)/Stabil) dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT, B(idn)/RWN, SCP: ccc-(idn)). Peringkat PTPI disamakan dengan negara Indonesia karena hubungan operasional dan strategis yang kuat, didorong oleh peran strategis perusahaan sebagai agen tunggal pemerintah dalam produksi dan distribusi pupuk yuang disubsidi untuk petani yang berhak melalui skema Public-Service Obligation. Sama seperti WIKA, peringkat WSKT juga mendapatkan pengangkatan empat notch pada skala nasional untuk merefleksikan hubungan moderat ke kuat dengan pemerintah karena pengawasan negara yang signifikan terhadap operasional WSKT dan kepentingan strategis perusahaan terhadap pembangunan infrastruktur Indonesia.


SCP WIKA dapat dibandingkan dengan perusahaan konstruksi global, seperti CRG di Cina, dan juga Infrastructure and Energy Alternatives, Inc. (IEA; B-/Stabil) and Tutor Perini Corporation (TUT, B+/Stabil) yang berdomisili di Amerika Serikat.


CRG memiliki skala operasional yang lebih besar dan profil finansial yang lebih kuat dari WIKA. Faktor tersebut ditambah dengan difersifikasi geografis dan produk yang lebih baik mengakibatkan SCP CRG memiliki peringkat beberapa notch lebih tinggi dari WIKA.


IEA memiliki profil finansial yang lebih kuat dari WIKA. Fitch memproyeksikan leverage IEA, yang diukur dengan net debt/EBITDA, akan dibawah 1x dalam empat tahun kedepan. IEA juga memiliki penghasilan arus kas bebas yang lebih kuat. Namun, Fitch melihat ini diimbangi oleh WIKA yang memiliki skala operasional yang lebih besar, profitabilitas margin yang lebih baik, dan IEA yang memiliki resiko eksekusi proyek yang lebih tinggi karena kontraknya yang fixed-price sehingga dapat mengurangi fleksibilitas operasional apabila terjadi cost overrun. Fitch menilai faktor-faktor tersebut membuat peringkat IEA memiliki tingkat yang sama dengan SCP WIKA.


WIKA dan TUT memiliki posisi yang kuat dalam pasar masing-masing dan memiliki skala operasional EBITDA yang sama. WIKA memiliki margin laba yang lebih tinggi, namun Fitch melihat eksposur TUT terhadap pasar industri konstruksi di Amerika Serikat yang lebih matang dan kemampuan untuk mengendalikan arus kas yang menghasilkan arus kas bebas yang lebih kuat. Faktor-faktor tersebut ditambah dengan ekspektasi Fitch dimana TUT akan memiliki profil finansial yang lebih kuat dalam tiga tahun kedepan, mengakibatkan perbedaan dua notch dalam penilaian profil kredit kedua perusahaan tersebut.


Peringkat Nasional SCP WIKA lebih kuat dibandingkan WSKT, dimana WSKT melakukan porsi kontrak turnkey yang lebih besar untuk mendukung negara dan merupakan salah satu investor terbesar di jalan tol dengan periode payback yang lebih Panjang. Hal tersebut mengakibatkan WSKT memiliki leverage yang lebih tinggi dan interest coverage yang lebih lemah dari WIKA. Perbedaan beberapa notch juga merefleksikan likuiditas WSKT yang lebih lemah. Peringkat Nasional SCP WIKA juga lebih kuat dari HK. Fitch melihat skala operasional WIKA yang lebih kecil dapat diimbangi dengan profil finansial yang lebih kuat, operasional yang memiliki keperluan modal lebih rendah, dan difersifikasi proyek yang lebih baik.



ASUMSI-ASUMSI UTAMA

Asumsi utama dari Fitch yang digunakan untuk rating case perusahaan termasuk:


- Kontrak baru sebesar IDR17 triliun di 2020 dan IDR35 triliun di 2021 (2019: IDR41 triliun)


- EBITDA margin, termasuk porsi laba dari joint operations, sekitar 7%-8% di 2020 dan 11% di 2021 (2019: 15%)


- Total belanja modal dan investasi sekitar IDR2,3 triliun in 2020



SENSITIVITAS PERINGKAT

Perkembangan-perkembangan masa depan yang dapat, secara individual atau kolektif, menyebabkan tindakan pemeringkatan negatif:


Fitch dapat melakukan resolusi terhadap RWN apabila terdapat informasi tambahan terhadap hubungan WIKA dengan negara. Fitch dapat mengambil aksi pemeringkatan negatif apabila hubungan lebih lemah dari ekspektasi.


Perkembangan-perkembangan masa depan yang dapat, secara individual atau kolektif, menyebabkan tindakan pemeringkatan positif:


Fitch dapat mengambil aksi pemeringkatan positif apabila hubungan WIKA dan pemerintah menjadi lebih kuat dari ekspektasi.



Skenario Pemeringkatan Terbaik/Terburuk

Peringkat Kredit Skala Internasional Korporsi Non Keuangan memiliki skenario kasus kenaikan peringkat terbaik (didefinisikan sebagai persentil ke-99 dari transisi peringkat, diukur dalam arah yang positif) yaitu tiga notch dalam kurun waktu tiga tahun; dan skenario kasus penurunan peringkat terburuk (didefinisikan sebagai persentil ke-99 dari transisi peringkat, diukur dalam arah negatif) yaitu empat notch dalam kurun waktu tiga tahun. Rentang peringkat kredit dari skenario kasus terbaik dan terburuk untuk semua kategori pemeringkatan berkisar dari ‘AAA’ hingga ‘D’. Peringkat kredit skenario kasus terbaik dan terburuk didasarkan pada kinerja historis. Untuk informasi lebih lanjut mengenai metodologi yang digunakan untuk menentukan peringkat kredit skenario kasus terbaik dan terburuk dalam sektor tertentu https://www.fitchratings.com/site/re/10111579



Likuiditas dan Struktur Utang

Resiko Refinancing yang Terkendali: Fitch melihat likuiditas jangka pendek WIKA didukung oleh resiko refinancing perusahaan yang terkendali karena hubungan yang kuat dengan bank-bank milik negara dan swasta. WIKA memiliki utang signifikan yang akan jatuh tempo dalam enam bulan kedepan, termasuk Komodo bond sebesar IDR5,4 triliun yang akan jatuh temp di Januari 2021. WIKA berencana untuk refinance Komodo bond melalui obligasi domestik dan bridging loans, terutama dari bank-bank milik negara.


WIKA memiliki kas sebesar IDR7,1 triliun pada akhir Juni 2020 dan fasilitas pinjaman yang belum ditarik sebesar IDR5,4 triliun, yang sebagian dapat digunakan untuk pembayaran utang yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan kedepan sebesar IDR20,7 triliun. Ini termasuk Komodo bond sebesar IDR5,4 triliun, medium-term notes sebesar IDR750 miliar yang jatuh tempo di Oktober-November 2020, medium-term notes sebesar IDR205 miliar yang akan jatuh tempo di Februari 2021 dan utang modal kerja jangka pendek dan fasilitas supply chain financing sebesar IDR14,3 triliun.


Fitch mengekspektasikan pinjaman modal kerja jangka pendek akan di roll-over oleh bank dalam kondisi bisnis normal karena profil kredit WIKA yang baik dan hubungan yang kuat dengan bank milik pemerintah. Fitch percaya profil utang jatuh tempo perusahaan akan menjadi lebih panjang apabila dapat refinance, dimana akan memberikan fleksibilitas yang lebih tinggi untuk mengendalikan arus kas dan memperkuat likuiditas. Roll-over pada utang modal kerja juga akan membebaskan kas untuk mendanai proyeksi belanja modal sebesar IDR2 triliun-3 triliun di 2020 apabila diperlukan. Namun, likuiditas tetap merupakan faktor kunci dan kegagalan untuk mengatasi utang yang akan jatuh tempo akan berakibat ke tindakan pemeringkatan negatif.



Referensi untuk Sumber Materi Substansial dikutip sebagai Faktor- Faktor Penggerak Peringkat

Sumber-sumber informasi utama yang digunakan dalam analisis ini dijelaskan dalam daftar kriteria yang relevan pada laporan ini



RINGKASAN DARI PENYESUAIAN LAPORAN KEUANGAN

- Bagian laba dari joint operation diperhitungkan dalam EBITDA karena ini merupakan bagian dari bisnis inti WIKA


-Supply chain financing dengan jatuh tempo lebih dari 90 hari diperhitungkan sebagai utang karena ini memperpanjang silklus normal utang usaha


- Fitch mengurangi IDR4 triliun dari posisi akhir tahun kas, karena ini adalah perbedaan antara posisi akhir tahun kas dan rata-rata posisi kas pada tiga kuartal pertama. Ini adalah untuk menghilangkan variasi siklus pada modal kerja yang berdampak pada leverage



Pertimbangan-Pertimbangan Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG)

Skor tertinggi pada relevasi kredit ESG adalah 3. Ini berarti ESG merupakan netral terhadap kredit dan hanya memiliki pengaruh minimal terhadap kredit perusahaan, karena sifatnya atau cara perusahaan mengelola hal tersebut. Untuk melihat informasi lebih lanjut mengenai ESG Relevance Scores, dapat diperoleh di www.fitchratings.com/esg.




PT Wijaya Karya (Persero) Tbk; Long Term Issuer Default Rating; Downgrade; BB-; RW: Neg
; Local Currency Long Term Issuer Default Rating; Downgrade; BB-; RW: Neg
----senior unsecured; Long Term Rating; Downgrade; BB-; RW: Neg

Contacts:
Analis Utama
Bernard Kie,
Associate Director
+65 6796 7216
Internasional
Fitch Ratings Singapore Pte Ltd.
One Raffles Quay #22-11, South Tower
Singapore 048583

Analis Utama
Salman Alamsyah,
Associate Director
+62 21 2988 6818
Nasional
PT Fitch Ratings Indonesia
DBS Bank Tower 24th Floor, Suite 2403 Jl. Prof.Dr. Satrio Kav 3-5
Jakarta 12940

Analis Kedua
Salman Alamsyah,
Associate Director
+62 21 2988 6818
Internasional

Ketua Komite
Vicky Melbourne,
Senior Director
+61 2 8256 0325

Media Relations: Leslie Tan, Singapore, Tel: +65 6796 7234, Email: leslie.tan@thefitchgroup.com

Informasi tambahan dapat diperoleh di www.fitchratings.com.

Applicable Criteria
Corporate Hybrids Treatment and Notching Criteria (pub. 11 Nov 2019)
Corporate Rating Criteria (pub. 01 May 2020) (including rating assumption sensitivity)
Corporates Notching and Recovery Ratings Criteria (pub. 14 Oct 2019) (including rating assumption sensitivity)
Country-Specific Treatment of Recovery Ratings Rating Criteria (pub. 27 Feb 2020)
Government-Related Entities Rating Criteria (pub. 13 Nov 2019)
National Scale Rating Criteria (pub. 08 Jun 2020)
Sector Navigators - Addendum to the Corporate Rating Criteria (pub. 26 Jun 2020)

Additional Disclosures
Solicitation Status
Endorsement Status
Endorsement Policy

Peringkat kredit diterbitkan oleh anak perusahaan lembaga pemeringkat Fitch Ratings, Inc., yang merupakan entitas yang terdaftar di the U.S. Securities and Exchange Commission sebagai organisasi pemeringkat statistik yang diakui secara nasional (Nationally Recognized Statistical Rating Organization (“NRSRO”)). Akan tetapi, anak perusahaan pemeringkat kredit ini tidak terdaftar dalam Butir 3 Form NRSRO (lihat https://www.fitchratings.com/site/regulatory), sehingga tidak berwenang untuk menerbitkan peringkat-peringkat kredit atas nama NRSRO.