04:14Jul 08, 2020Reuters

Fitch Merevisi Outlook Angkasa Pura I menjadi Negatif; Affirmasi Peringkat di ‘AA+(idn)’


(The following statement was released by the rating agency)


Fitch Ratings-Jakarta-08 July 2020:

Fitch Ratings Indonesia telah merevisi Outlook Peringkat Nasional Jangka Panjang PT Angkasa Pura I menjadi Negatif dari Stabil dan mengafirmasi peringkat di ‘AA+(idn)’.


Peringkat nasional di kategori ‘AA’ menunjukkan ekspektasi akan resiko gagal bayar yang sangat rendah relatif terhadap emiten atau surat utang lainnya di Indonesia. Resiko kredit hanya sedikit berbeda dari emiten-emiten atau surat-surat utang yang mendapat peringkat tertinggi di Indonesia.


RASIONAL PEMERINGKATAN


Outlook negatif pada peringkat AP I mencerminkan tekanan negatif dari ketidakpastian yang berkelanjutan atas waktu dan durasi dari tekanan lalu lintas akibat pandemi coronavirus, dan ekspektasi Fitch atas kenaikan leverage dalam jangka menengah dan rencana belanja modal yang signifikan yang didanai oleh utang. Setiap penurunan lebih lanjut pada Profil Kredit Standalone (SCP) AP I dapat berdampak pada peringkat AP I sebagaimana penilaian berdasarkan kriteria Government-Related Entities (GRE) Rating (GRE) milik Fitch.


Afirmasi peringkat mencerminkan kuatnya hubungan AP I dengan Indonesia sovereign (BBB/Stabil) dan kecenderungan dukungan pemerintah bila diperlukan. Hal ini juga mencerminkan ekspektasi kami bahwa pemulihan lalu lintas perusahaan akan mendapat manfaat dari portofolio yang terdiversifikasi, lalu lintas domestik yang kuat dan ketahanan lalu lintas Origination & Destination (O&D).


Deleveraging perusahaan akan bergantung pada pertumbuhan lalu lintas dari lima bandara utama AP I. Pembatasan sosial oleh pemerintah telah mengganggu lalu lintas penumpang AP I pada 1Q2020 dan 2Q2020. Penurunan signifikan terjadi pada Mei 2020 dengan hanya 77,342 pergerakan penumpang, mengikuti kebijakan pemerintah untuk menutup penerbangan komersial kerena adanya program pembatasan sosial berskala besar. Lalu lintas Juni 2020 menunjukkan peningkatan signifikan ke 648.567 penumpang berdasarkan perkiraan perusahaan, atau 8,39x lebih tinggi dari Mei 2020, kerena pelonggaran kebijakan pembatasan. Fitch mengharapkan bahwa AP I akan mendapatkan manfaat dari lalu lintas yang digerakkan oleh penumpang dalam negeri, yang kami percaya memiliki pemulihan yang lebih cepat daripada Bandara Denpasar yang berbasis pariwisata.


Peringkat Nasional Jangka Panjang AP I adalah satu notch dibawah peringkat induknya, Indonesia sovereign, sejalan dengan kriteria peringkat GRE Fitch. Hal ini mempertimbangkan kekuatan hubungan antara AP I dan pemerintah, serta insentif pemerintah untuk memberikan dukungan kepada AP I.


SCP AP I di ‘aa-(idn)’ mencerminkan portofolio bandara yang terdiversifikasi secara geografis, lalu lintas O&D yang besar berdasarkan pertumbuhan volume yang kuat secara historis, dan kompetisi yang minimal. SCP memasukan faktor fleksibilitas sedang dalam tarif jasa kebandaraan (aeronautical) yang teregulasi, rencana ekspansi belanja modal yang besar dan struktur hutang korporasi pada umumnya. Rating case Fitch memperkirakan rata-rata lima tahun net debt / EBITDA di 9,6x, mengikuti pemulihan lalu lintas ke tingkat pra-pandemi pada 2022 dengan CAGR sebesar 2,2% antara 2019 dan 2024, diimbangi dengan penangguhan belanja modal pada 2020-2021.


Pandemi virus korona dan langkah-langkah penanggulangan oleh pemerintah di seluruh dunia telah menciptakan lingkungan global yang tidak pasti untuk sektor bandara. Data kinerja AP I, melalui data i terbaru yang disediakan emiten, mungkin tidak mengindikasikan penurunan nilai material, tetapi perubahan material pada profil pendapatan dan biaya terjadi di sektor bandara dan akan terus berkembang sejalan dengan kegiatan ekonomi dan pembatasan pemerintah dalam menanggapi situasi yang sedang berlangsung. Fitch Rating melihat ke depan (forward-looking), dan kami akan memantau perkembangan pada sektor ini terkait pandemi terutama dalam hal intensitas (severity) dan durasi, dan memasukkan perubahan input kualitatif dan kuantitatif pada base-case dan rating-case berdasarkan ekspektasi kami untuk kinerja dan penilaian pada risiko-risiko utama.


Penilaian GRE


Kekuatan Hubungan dengan Pemerintah: Fitch melihat status, kepemilikan dan kontrol AP I oleh negara sebagai ‘Kuat’. Negara sepenuhnya memiliki perusahaan dan menunjuk komisaris dan dewan direksi. Negara juga mengendalikan rencana investasi dan keputusan belanja modal. Kami juga menilai rekam jejak dan ekspektasi dukungan dari negara untuk AP I sebagai ‘Kuat’, meskipun tidak ada catatan pemerintah memberikan dukungan secara nyata, karena AP I memiliki profil keuangan yang baik. Namun, kami mengharapkan perusahaan untuk menerima dukungan pemerintah, jika diperlukan, karena perannya yang penting dalam pembangunan ekonomi negara.


Insentif Negara untuk Mendukung: Fitch menilai implikasi sosial-politik dari default oleh AP I sebagai ‘Moderat’. Gagal bayar akan merusak reputasi pemerintah, tetapi kami tidak meyakini hal ini akan menyebabkan gangguan parah pada aktivitas lalu lintas udara Indonesia, karena infrastruktur bandara akan tetap utuh dan dapat dioperasikan oleh entitas lainnya. Penilaian kami terhadap implikasi keuangan dari default adalah ‘Kuat’, karena perusahaan dianggap sebagai salah satu entitas utama milik negara Indonesia dan default akan menghambat kepercaaan investor terhadap negara dan entitas milik negara lainnya.



FAKTOR-FAKTOR PENGGERAK PERINGKAT

Lalu Lintas O&D yang Resilient, Pasar Lokal yang Kuat – Resiko Pendapatan (Volume): Menengah


14 bandara AP I melayani beragam wilayah di Indonesia tengah dan timur dengan basis enplanement lebih dari 40 juta. Pergerakan penumpang pada 2019 sebesar 81,5 juta terutama penumpang O&D (95%) dan sebagian besar (73%) penumpang domestik. Selain itu, API memiliki lalu lintas yang seimbang untuk tujuan bisnis dan liburan dengan kompetisi yang terbatas. Campuran maskapai penerbangan yang beragam, dengan pendapatan dari maskapai terbesar mewakili 16% dari pendapatan, melindungi bandara dari risiko rekanan maskapai yang terkonsentrasi. Namun, lalu lintas telah menunjukan penurunan signifikan karena langkah pembatasan pemerintah dalam menanggulangi penyebaran virus korona. Lalu lintas turun sekitar 8% di 1Q20, dan AP I mengestimasikan penurunan sekitar 92% di 2Q20, di bandingkan dengan lalu lintas triwulanan tahun lalu. Lalu lintas penumpang meningkat menjadi 648,567 pada bulan Juni (estimasi AP I) dari 77,342 pada bulan Mei, setelah pemerintah melonggarkan pembatasan. Kami berharap untuk melihat pemulihan lalu lintas bertahap meskipun dalam ketidakpastian, karena portofolio API mendapat manfaat dari sebagian besar lalu lintas penumpang yang digerakkan secara domestik.


Tarif Aeronautika yang Teregulasi, Pendapatan Non-Aeronautika yang Bertumbuh – Resiko Pendapatan (Tarif): Menengah


Tarif jasa aeronautika teregulasi oleh Kementrian Perhubungan, yang memungkinkan pengajuan peningkatan tarif aeronautika setiap dua tahun sekali, dan bergantung pada persetujuan dari kementrian, yang menurut Fitch ini meningkatkan resiko ketidakpastian. Namun, resiko ini dimitigasi oleh rekam jejak yang terbukti dari AP I dalam meningkatkan tarif. Framework penyesuaian tarif tidak memberikan pemulihan beban biaya untuk memitigasi dampak turunnya volume, yang Fitch melihat ini sebagai kelemahan. AP I memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi untuk menentukan tarif jasa non-aeronautika, yang mencakup 44% dari total pendapatan perusahaan. Porsi dari pendapatan non-aeronautika telah meningkat dari 33% dari total pendapatan di 2013, dengan AP I menargetkan mencapai diatas 50% dalam jangka panjang.


Belanja Modal yang Signifikan dengan Manajemen yang Berpengalaman - Pembangunan Infrastruktur/Resiko Pembaruan: Menengah


AP I memiliki rencana investasi belanja modal lima tahun yang signifikan sebesar IDR50,1 triliun dan terutama digunakan untuk memperluas tiga bandara yang memiliki keterbatasan kapasitas, termasuk investasi dalam fasilitas baru. Framework konsesi membolehkan AP I dalam menaikan tarif untuk mengcover bebannya setelah konsultasi dengan Kementrian Perhubungan. Kebutuhan dana yang besar menciptakan tantangan bagi perusahaan dalam merealisasikan ekspansi, terlepas dari rencana belanja modal yang jelas. Namun, Fitch percaya bahwa manajemen mempunyai pengalaman yang tinggi dalam membangun dan invetasi pada bandara dan perusahaan memiliki akses yang baik untuk pendanaan external mengurangi risiko. Namun, kami mengharapkan beberapa penangguhan belanja modal karena pandemi, dan mayoritas belanja modal adalah untuk ekspansi yang memiliki beberapa fleksibilitas.


Utang Sebagian Pembayaran Bullet; Suku Bunga Utang Variabel: Struktur Utang: Menengah


AP I memiliki tipikal struktur utang korporasi umumnya, menggunakan utang tanpa jaminan dengan persyaratan kredit yang tidak terlalu memberatkan, kecuali menjaga current ratio, dan juga rasio coverage dan leverage. Utang terdiri dari obligasi perusahaan dan utang bank. Utang bank mencakup 85% dari total utang dan sebagian besar diamortisasi selama jangka waktu utang. Risiko pembayaran kembali (refinancing) yang timbul dari pembayaran bullet dari obligasi dimitigasi oleh tersedianya fasilitas pinjaman, jadwal jatuh tempo utang yang tersebar dengan baik, dan mimiliki akses ke pasar modal. AP I tidak memiliki resiko mata uang asing karena seluruh utangnya adalah dalam mata uang lokal. Mayoritas utang memiliki tingkat suku bunga mengambang dan tidak dihedge, yang Fitch percaya merupakan kelemahan yang membatasi penilaian kami.


Profil Finansial


Fitch memperkirakan leverage AP I – diukur dengan net debt/EBITDA – akan mencapai puncaknya pada 2020 karena tekanan pandemi. Skenario base case dan rating case Fitch memproyeksikan net leverage di 11,8x dan 15,2x, berturut-turut, di 2020, diikuti oleh penurunan significan menjadi 5,4x dan 7,5x pada 2021 dan kemudian sedikit meningkat pada realisasi penundaan belanja modal pasca-pandemi. Rata-rata leverage antara 2021 dan 2024 akan menjadi 6,1x dan 8,2x di bawah base case dan rating case Fitch. Skenario base case memproyeksikan rata-rata lima tahun di 7,2x, sedangkan rating case memiliki rata-rata lima tahun di 9,6x.


PERUSAHAAN PEMBANDING


Perusahaan pembanding terdekat AP I pada skala peringkat nasional adalah PT Pengembang Pelabuhan Indonesia (PPI, AAA(idn)/Stabil, SCP: aa+(idn)), PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBI, AA-(idn)/Stabil) dan PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex, A+(idn)/Stabil).


Profil bisnis PPI lebih tinggi daripada AP I. PPI memiliki pendapatan dan biaya tetap dengan kontrak jangka panjang, membatasi PPI dari risiko operasional. PPI juga memiliki leverage yang lebih rendah dan profitabilitas yang stabil, meskipun operasinya lebih kecil. Hal ini membuat AP I SCP berada dua notch di bawah PPI.


Peringkat TBI mendapatkan manfaat dari perjanjian sewa jangka panjang yang memberikan visibilitas dan stabilitas terhadap arus kasnya. TBI memiliki risiko rekanan yang rendah; kontribusi pendapatan dari operator telekomunikasi Indonesia dengan peringkat layak investasi pada peringkat internasional sebesar 83% pada tahun 2018. Selain itu, TBI memitigasi risiko mata uang dengan sepenuhnya melindingi eksposur dolar ASnya. TBI memiliki operasi yang lebih kecil, profitabilitas yang lebih tinggi dan leverage yang lebih rendah dari AP I. Namun, AP I diuntungkan dari rekam jejak operasional jangka panjangnya, karakteristik yang mendekati monopoli, posisi memimpin pasar, konsesi bandara jangka panjang dan kenaikan tariff yang teregulasi. Sektor bandara sangat terlegulasi; sehingga, membatasi kompetisi dan hambatan masuk ke dalam sektor ini. Oleh karena itu, Fitch memandang bahwa peringkat AP I berada pada peringkat yang sama dengan TBI.


Sritex berada di posisi tiga teratas dalam industri tekstil dan garmen di Indonesia. Sritex memiliki operasi yang lebih besar dari AP I tetapi memiliki profitabilitas yang lebih rendah. Sritex juga memiliki eksposur volatilitas harga bahan baku, tetapi dapat mengalihkannya pada fluktuasi biaya untuk pelanggan. AP I memiliki leverage yang lebih tinggi daripada Sritex dengan margin yang lebih tinggi, posisi pasar yang kuat dan sektor yang sangat teregulasi. Oleh karena itu, Fitch menilai bahwa API berada pada satu notch lebih tinggi dari Sritex.



SENSITIVITAS PERINGKAT

Faktor-faktor yang dapat, secara individu maupun kolektif, dapat mengarah pada tindakan pemeringkatan positif / kenaikan:


-Penguatan hubungan dengan negara


-Leverage net debt/EBITDA yang diproyeksikan secara berkelanjutan berada di bawah 8,5x, dapat mengembalikan Outlook ke Stabil.


Faktor-faktor yang dapat, secara individu maupun kolektif dapat mengarah pada tindakan pemeringkatan negatif / penurunan:


-Melemahnya hubungan dengan negara


-Peningkatan leverage net debt / EBITDA diproyeksikan menjadi lebih dari 8,5x untuk periode berkelanjutan dalam rating case Fitch.


-Penurunan kredit lebih lanjut dari maskapai udara utama atau tunggakan pembayaran dalam keuangan bandara


-Penurunan tingkat likuiditas bandara untuk periode yang berkelanjutan.



Skenario Pemeringkatan Terbaik/Terburuk

Peringkat Kredit Skala Internasional Keuangan Publik memiliki skenario kasus kenaikan peringkat terbaik (didefinisikan sebagai persentil ke-99 dari transisi peringkat, diukur dalam arah yang positif) yaitu tiga notch dalam kurun waktu tiga tahun; dan scenario kasus penurunan peringkat terburuk (didefinisikan sebagai persentil ke-99 dari transisi peringkat, diukur dalam arah negatif) yaitu tiga notch dalam kurun tiga tahun. Rentang peringkat kredit dari scenario kasus terbaik dan terburuk untuk semua kategori pemeringkatan berkisar dari ‘AAA’ hingga ‘D’. Peringkat kredit scenario kasus terbaik dan terburuk didasarkan pada kinerja historis. Untuk informasi lebih lanjut mengenai metodologi yang digunakan untuk menentukan peringkat kredit scenario kasus terbaik dan terburuk dalam sektor tertentu. https://www.fitchratings.com/site/re/10111579



Profil Kredit

PEMBARUAN KREDIT


Total lalu lintas penumpang di 13 bandara AP I mengalami penurunan sebesar 15,6% menjadi 81,5 juta pada 2019. Jumlah tersebut mencakup 59,1 juta penumpang domestic, 17,9 juta penumpang internasional dan 4,5 juta penumpang transit. Lalu lintas domestik menurun sebesar 20,7%, dipengaruhi oleh kenaikan tarif tiket pesawat pada 2019. Lalu lintas tertinggi terlihat di Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali, yang melayani 24,2 juta penumpang yang datang dan berangkat, naik 1,7% dari tahun sebelumnya.


Pendapatan AP I naik 1,3% menjari IDR8,6 triliun pada 2019, sementara laba bersih turun 28% menjadi IDR 1,5 triliun. Realisasi belanja modal kurang dari yang direncanakan karena beberapa efisiensi dan percepatan proyek. Hutang meningkat sebesar IDR 11,0 triliun untuk membiayai peningkatan belanja modal sebesar IDR 9,6 triliun. Akibatnya, leverage berada di 3,7x pada akhir 2019, yang merupakan peningkatan 1,5x dari tahun sebelumnya.


ANALISA FINANSIAL


Skenario base case Fitch mengasumsikan penurunan lalu lintas sebesar 37% pada 2020, terutama didorong oleh penurunan signifikan dan pemulihan yang lambat pada lalu lintas internasional. Lalu lintas akan pulih ke tingkat pra-pandemi pada 2021 dan meningkat selanjutnya sejalan dengan GDP. Fitch menerapkan pertumbuhan yang lebih rendah pada pendapatan aeronautical per penumpang, pendapatan non-aeronautika per penumpang dan pertumbuhan sewa. Fitch mengasumsikan penurunan permintaan lalu lintas juga akan mempengaruhi pendapatan non-aeronautika, termasuk keterlambatan dalam proyek ekspansi non-aeronautika. Fitch mengasumsikan 49% biaya operasi variable dengan pertumbuhan sejalan dengan inflasi. Kami juga mengasumsikan beberapa penangguhan belanja modal di 2020-2021 ke 2023 seterusnya. Dalam base case Fitch, leverage tertinggi di 11,8x pada 2020, kemudian turun menjadi 5,4x pada 2021, dengan proyeksi rata-rata rasio leverage di 7,2x pada 2020-2024 dan 6,1x pada 2021-2024.


Rating case menggunakan asumsi yang lebih konservatif dan memperhitungkan beberapa angka yang distreskan, termasuk pambatasan yang diperpanjang pada asumsi lalu lintas. Fitch mengasumsikan penurunan lalu lintas sebesar 41% pada tahun 2020, lalu lintas kembali pada tingkat pre-pandemi di tahun 2022 dan kemudia meningkat sejalan dengan GDP. Fitch juga mengambil asumsi konservatif pada pendapatan non-aeronautika per penumpang dan pendapatan sewa masing-masing sebesar 2,8% dan 2,7%, CAGR 2019-2024. Pada rating case Fitch, leverage mencapai 15,2x pada 2020, kemudian turun menjadi 7,5x pada 2021, dengan proyeksi rata-rata leverage di 9,6x pada 2020-2024 dan 8,2x pada 2021-2024.



Referensi untuk Sumber Materi Substansial dikutip sebagai Faktor- Faktor Penggerak Peringkat

Sumber-sumber informasi utama yang digunakan dalam analisis ini dijelaskan dalam daftar kriteria yang relevan pada laporan ini




PT Angkasa Pura I (Persero); National Long Term Rating; Affirmed; AA+(idn); RO:Neg

Contacts:
Primary Rating Analyst
Irwansyah Maryanto,
Associate Director
+62 21 2988 8530
PT Fitch Ratings Indonesia
DBS Bank Tower 24th Floor, Suite 2403 Jl. Prof.Dr. Satrio Kav 3-5
Jakarta 12940

Committee Chairperson
Sajal Kishore,
Senior Director
+65 6796 7095

Media Relations: Leslie Tan, Singapore, Tel: +65 6796 7234, Email: leslie.tan@thefitchgroup.com

Informasi tambahan dapat diperoleh di www.fitchratings.com.

Applicable Criteria
Airports Rating Criteria (pub. 24 Mar 2020) (including rating assumption sensitivity)
Government-Related Entities Rating Criteria (pub. 13 Nov 2019)
Infrastructure and Project Finance Rating Criteria (pub. 24 Mar 2020) (including rating assumption sensitivity)
National Scale Rating Criteria (pub. 08 Jun 2020)

Additional Disclosures
Solicitation Status
Endorsement Status
Endorsement Policy

Peringkat kredit diterbitkan oleh anak perusahaan lembaga pemeringkat Fitch Ratings, Inc., yang merupakan entitas yang terdaftar di the U.S. Securities and Exchange Commission sebagai organisasi pemeringkat statistik yang diakui secara nasional (Nationally Recognized Statistical Rating Organization (“NRSRO”)). Akan tetapi, anak perusahaan pemeringkat kredit ini tidak terdaftar dalam Butir 3 Form NRSRO (lihat https://www.fitchratings.com/site/regulatory), sehingga tidak berwenang untuk menerbitkan peringkat-peringkat kredit atas nama NRSRO.