[SRIUS] CPO Malaysia : Bersiap Melanjutkan UptrendPemerintah Indonesia berencana untuk menjalankan kebijakan B50 di awal Juli 2026. Hal ini dapat mendorong permintaan CPO di dalam negeri dan menimbulkan kelangkaan di global. Kami melihat harga CPO Malaysia, MYX:FCPO1! ,berpeluang naik melanjutkan Uptrend menuju MYR5,200. Penurunan dari sejak April 2026 terindikasi sebagai Bullish Continuation.
Menggunakan Bollinger Band, kami melihat penurunan Bandwidth sebagai bukti dari Technical Correction atau Corrective Wave.
Kami menggunakan Bandwidth yang sudah dimodifikasi sehingga akan berwarna Biru apabila harga di atas SMA60 (sesuai dengan Bollinger Band periode 60) dan Merah apabila harga di bawah SMA60.
Dalam beberapa hari terakhir, harga masih volatile di antara atas dan bawah SMA60 namun kami masih melihat arah dari SMA60 atau Middle Bollinger Band 60 ke atas (alias Uptrend).
Saham CPO
Semua saham CPO di atas dalam potensi Downtrend karena membentuk Lower Low dari awal tahun 2026.
Penurunan dalam yang terjadi pada IDX:AALI , IDX:BWPT , IDX:SSMS , IDX:GZCO dan IDX:DSNG mungkin membuat saham tersebut Oversold.
Kami melihat potensi Downtrend yang relatif lemah pada IDX:LSIP dan IDX:SIMP . Kedua saham ini dapat dipertimbangkan untuk mencari peluang di saham CPO.
Cpomalaysia
SRIUS : Komoditas dan Saham KomoditasSRIUS : Strategi Investasi Untuk Semua 260505
1. Energi: Mesin Volatilitas Geopolitik
Katalis utama bagi siklus komoditas saat ini adalah ketegangan tinggi di Timur Tengah, khususnya konflik AS-Iran yang terus berlanjut dan penutupan Selat Hormuz
Minyak (WTI): Harga telah melonjak lebih dari 87% YTD, baru-baru ini sedikit terkoreksi namun tetap bertahan di atas USD 110-116/barel. Volatilitas ini menekan sektor manufaktur domestik (PMI turun menjadi 49,1) namun memberikan keuntungan besar bagi saham-saham terkait energi
Batu Bara: Meskipun bagi sebagian pihak dianggap sebagai sektor yang "tertinggal", harga batu bara menunjukkan tren meningkat karena menipisnya inventori global dan peningkatan permintaan untuk sumber energi alternatif
2. Logam: Kelangkaan dan Peningkatan Strategis
Sektor logam mencatatkan performa unggul karena kombinasi gangguan pasokan dan ekspansi produksi yang agresif.
Timah ( IDX:TINS ): Harga timah mengalami pemulihan yang kuat (+16% YTD) didorong oleh terbatasnya pasokan akibat penutupan Selat Hormuz serta tindakan tegas pemerintah Indonesia terhadap pertambangan ilegal
Emas ( IDX:ARCI , IDX:BRMS ): Emas berfungsi sebagai perlindungan nilai geopolitik dan mata uang yang vital saat Rupiah mencapai rekor terendah melampaui Rp17.300/USD. Produsen seperti Archi Indonesia memanfaatkan momentum ini dengan target pertumbuhan produksi sebesar 15% pada tahun 2026
Tembaga: Tetap menjadi instrumen investasi jangka panjang yang meyakinkan. Harga tembaga naik sekitar 30% secara tahunan (Year-on-Year/YoY), dengan proyeksi peningkatan cadangan yang besar berkat aktivitas pengeboran masif di tahun 2026
3. Komoditas Lunak: Faktor CPO dan Logistik
Minyak Sawit (CPO): Prospek sektor ini bersifat konstruktif didorong oleh kenaikan permintaan biodiesel (B50). Namun, sektor ini menghadapi tekanan jangka pendek akibat tingginya biaya pupuk dan volume produksi yang lebih rendah
Logistik (IDXTRANS): Secara menarik, penutupan Selat Hormuz telah menjebak kapal-kapal tanker dan kontainer, yang memicu kenaikan tarif pengiriman dan menjadikan IDXTRANS sebagai sektor dengan performa terbaik (+19,4% MoM) pada April 2026

