PT Sarana Menara Nusantara Tbk
Pembelian

TRICK : TOWR Di Akhir Downtrend Channel

194
TRICK : TOWR Di Akhir Downtrend Channel

TRICK : T.R.A.I.L Stock Pick 251015

TOWR berada dalam Downtrend Channel yang hampir "perfect" dan menurut kami cukup jarang terjadi. TOWR sedang menguji Resistance dari Channel di Rp650an.

Namun karena Downtrend, peluang untuk turun menuju Rp360 - Rp400 masih cukup besar dan ditandai dengan Breakdown Support di Rp500. Support tersebut adalah Up Trendline sejak 2Q25.

Masih perlu katalis yang signifikan untuk bisa Breakout Rp650an, Resistance dari Downtrend Channel. Namun mengingat TOWR sudah turun alias Downtrend dari Juli 2021, ada harapan TOWR mendekati akhir Downtrend.

Berikut kata A.R.I.S :

Katalis Positif:
  • Peningkatan Fleksibilitas Neraca Keuangan: Setelah rights issue sebesar IDR5.5 triliun untuk pembayaran utang, rasio net debt-to-EBITDA TOWR diperkirakan akan membaik dari 4.8x pada 2024 menjadi 4.3x pada 2025F, jauh di bawah batas perjanjian 5.0x. Ini memberikan fleksibilitas neraca yang cukup untuk ekspansi organik dan anorganik.
  • Potensi Pertumbuhan Bisnis Serat Optik: TOWR memiliki kepemilikan serat optik terpanjang di Indonesia (265,507 km), menunjukkan potensi pertumbuhan yang cepat dalam bisnis serat optik (fiber business).


Katalis Negatif:
  • Tekanan Berkelanjutan dari Konsolidasi Telco: Konsolidasi operator telekomunikasi, terutama pasca-merger XLSmart, menyebabkan momentum pertumbuhan melambat di FY25F. Hal ini terlihat dari perlambatan penambahan menara dan pelanggan.
  • Penurunan Tarif Sewa: Tarif sewa menara diperkirakan akan melunak menjadi sekitar IDR12.1 juta/pelanggan/bulan (vs. IDR12.9 juta/IDR12.6 juta pada 2023/2024), mencerminkan tekanan negosiasi ulang dari operator telco yang mencari persyaratan pembaruan yang lebih baik.
  • Perlambatan Pertumbuhan Pendapatan Non-Menara: Pendapatan non-menara diperkirakan melambat secara signifikan, disebabkan oleh: (1) pertumbuhan pendapatan FTTT yang lebih lambat karena berkurangnya penambahan menara pasca-merger XLSmart; (2) pendapatan FTTH yang moderat karena ISAT dan EXCL menyesuaikan strategi di tengah persaingan fixed broadband yang lebih ketat; dan (3) pertumbuhan konektivitas yang lebih lunak karena tidak diperpanjangnya kontrak pelanggan pemerintah.
  • Ketidakpastian dari MTO DATA: iForte (anak perusahaan TOWR) gagal meningkatkan kepemilikan di PT Remala Abadi Tbk (DATA) di atas 50% melalui Mandatory Tender Offer (MTO), sehingga keuangan DATA tidak akan terkonsolidasi dalam laporan keuangan TOWR.
  • Kenaikan Suku Bunga: Kenaikan suku bunga dapat berdampak negatif pada laba bersih TOWR karena akan meningkatkan beban bunga.
  • Kinerja Laba Bersih di Bawah Ekspektasi (1H25): Meskipun pendapatan dan EBITDA sejalan dengan konsensus, laba bersih 6M25 sebesar IDR1.7 triliun masih di bawah ekspektasi konsensus (46%), menunjukkan adanya tantangan profitabilitas.
  • Penurunan Marjin: Marjin kotor, marjin operasi, marjin EBITDA, dan marjin bersih diperkirakan akan menurun di tahun-tahun mendatang (misalnya, marjin EBITDA dari 84.0% di 2024 menjadi 83.1% di 2025F dan 82.7% di 2026F).
Catatan
TOWR lebih terlihat Uptrend daripada TBIG.

Dibandingkan Operator Telekomunikasi (TLKM, EXCL dan ISAT), Infrastruktur Telekomunikasi terlihat lebih Bullish.

cuplikan

Pernyataan Penyangkalan

Informasi dan publikasi ini tidak dimaksudkan, dan bukan merupakan, saran atau rekomendasi keuangan, investasi, trading, atau jenis lainnya yang diberikan atau didukung oleh TradingView. Baca selengkapnya di Ketentuan Penggunaan.