Jee_D

INDY | Demam Harga Coal

Pembelian
IDX:INDY   INDIKA ENERGY TBK
Tahun 2017, INDY melakukan akuisisi saham PT Kideco Jaya Agung dengan biaya akuisisi sebesar US 17,5 juta dan dibayarkan ke Samtan co, ltd dan PT Muji Utama (https://market.bisnis.com/read/20171208/...). Akuisisi ini membuat INDY memiliki 91% saham PT Kideco Jaya Agung yang merupakan perusahaan batu bara terbesar ke 3 dari sisi volume produksi tahunan di Indonesia. Langkah akuisisi ini tentu saja, akan memantapkan langkah INDY sebagai penyedia batu bara. Namun, terjadi penyimpangan di laporan keuangan INDY ditahun 2017 itu dimana INDY tiba tiba saja mencetak laba bersih sebesar 4.02 T(setelah sebelumnya (2015 dan 2016 rugi berturut-turut). Laba bersih ini diperoleh dari keuntungan revaluasi PT Kideco Jaya Agung senilai US$ 384,21 juta (https://www.dunia-energi.com/indika-raih...). Meski secara akunting ini diperbolehkan, tapi bagi kita investor, ini termasuk manipulasi data karena catatan keuntungan revaluasi ini tidak ada duitnya. Dan terjadilah, penurunan laba bersih sebesar 74.6% di tahun 2018, dan setelah itu INDY rugi terus hingga tahun 2020.

Kerugian INDY di tahun 2018 tentu saja aneh karena harga batu bara saat itu tinggi (sekitar US$ 100), dan ini terjadi karena INDY harus melakukan penurunan nilai wajar (secara accounting) terhadap keuntungan revaluasi PT Kideco Jaya Agung ini dalam bentuk rugi amortisasi sebesar US$ 136 juta setiap tahun hingga sekarang ini. What the hell.... Jadi dengan kata lain manajemen INDY ini kualitasnya ????

Namun, fakta dilapangan saat ini adalah harga batu bara sudah mencapai US$ 300 dan ini sangat tinggi sehingga memberikan amunisi yang kuat bahkan bagi INDY sekalipun untuk bisa memperoleh laba bersih. Dan jadilah di tahun 2021 lalu, INDY sukses membukukan laba bersih sebesar 825.01 B (naik 148.27% dibandingkan tahun 2020) dengan pendapatan lompat sebesar 2233%. Dan karena harga batu bara saat ini masih terjaga stabil diatas US$280, maka tidak heran, INDY masih membukukan laba bersih di kuartal 1 tahun 2022 ini dan diperkirakan sukses juga mencetak laba bersih di tahun 2022 ini. Jadi, karena alasan inilah maka INDY masih bisa saja punya alasan untuk dinaikkan mengingat valuasinya juga masih tidak mahal. I mean, memang INDY beresiko tapi dibandingkan dengan saham-saham gorengan tidak jelas lainnya dimana digorengnya sesuka bandar sehingga kalau retail masuk, akan tergantung sama belas kasihan bandarnya (soalnya tidak ada bandar lain tertarik goreng sahamnya), maka INDY ini lain dimana ada bandar-bandar tertarik untuk tradingkan saham ini karena unsur fundamental itu tadi.

So, INDY secara teknikal saat ini sudah membentuk pola bullish (impulsive corrective) selama 1 tahun lebih ini dan saat ini masih dalam fase koreksi. Dimana saya melihat level 2480- 2000 merupakan harga-harga yang menarik untuk pembelian. Dan dalam sudut pandang saya ada beberapa alternatif pergerakan harga INDY ini, 2 diantaranya saya share dengan ilustrasi scenario 1 dimana harga akan bergerak terkonsolidasi dan selanjutnya rebound dan meneruskan perjalanan ke atas dan scenario 2 dimana harga akan terkoreksi lanjut turun (kombinasi sideways dan zig zag ) untuk menguji support majornya dan lalu rebound dari sana dan mulai lagi pergerakan bullishnya. Anyway, saya melihat potensi INDY untuk naik ke 4,000 atau diatasnya bisa saja terjadi. Cuma diingat, INDY ini tipikal saham trading, dan tidak cocok untuk investasi (utangnya gede, manajemennya tidak bagus karena selain mereka bisa manipulasi data keuangan juga tidak memiliki fokus terhadap perkembangan bisnisnya). Jadi, pastikan anda sudah paham ini.




Pernyataan Penyangkalan

Informasi dan publikasi tidak dimaksudkan untuk menjadi, dan bukan merupakan saran keuangan, investasi, perdagangan, atau rekomendasi lainnya yang diberikan atau didukung oleh TradingView. Baca selengkapnya di Persyaratan Penggunaan.