Setelah mencetak All time High di akhir September lalu, kini BTC terus terkoreksi dan bahkan sempat menguji level 80 ribuan. Pada ulasan sebelumnya, saya memproyeksikan BTC bisa ke level 135 ribu selama menembus dan bertahan di atas area 120.8 ribu. Ternyata setelah area 120.8 ribu diuji beberapa kali, BTC pun akhirnya kehilangan momentum naiknya.
Cek ulasannya di sini: https://id.tradingview.com/chart/BTCUSD/9vdvCxX1/
Jika kita perhatikan di timeframe weekly, terlihat pergerakan yang terjadi saat ini cenderung berpotensi mengikuti apa yang terjadi di tahun 2021-22. Di tahun tersebut terlihat bahwa BTC juga mencetak ATH di 69000 (panah biru). Namun ATH tersebut malah diiringi dengan indikator momentum yang mengalami divergensi. Terlihat ketika membentuk ATH, indikator momentum malah membentuk puncak yang lebih rendah (panah hitam). Setelah itu BTC terus terkoreksi hinga menembus EMA 50 & 200 weekly. BTC baru berkonsolidasi lagi di area fibo 123.6 (lingkaran merah).
Untuk saat ini BTC terkoreksi setelah mencetak level ATH. Sama seperti di tahun 2021, ATH yang terjadi diiringi dengan indikator momentum yang mengalami divergensi (panah abu-abu dan hitam). Ketika BTC ATH, puncak momentum malah lebih rendah dari puncak sebelumnya. Saat ini BTC sudah berhasil menembus ke bawah MA 500 weekly. Jika kita mengansumsikan bahwa history repeats itself, target konsolidasi BTC ada di area 62200-69000 (kotak merah).
Lalu apa penyebab koreksi yang terjadi?
Hipotesis saya ada 2 penyebabnya:
Untuk yang overleveraged berarti posisi "kertas" atau paper asset (baca: kontrak futures) cenderung terlalu banyak. Para trader cenderung membuka posisi dengan leverage besar tanpa melihat margin yang mereka miliki. Cacing-cacing, naga-naga istilahnya. Namun kondisi ini akan berangsur pulih jika posisi overleveraged tersebut kembali normal atau menghilang.
Nah untuk yang poin 2 ini yang "mengkawatirkan". Kita tahu sendiri bahwa JPY menjadi funding currency selama beberapa dekade terakhir. Ini dikarenakan suku bunga yang minus membuat para pelaku pasar memanfaatkan hal tersebut untuk me-leverage posisi mereka di berbagai investasi kelas aset. Suku bunga minus merupakan salah satu opsi yang diambil Jepang karena mengalami deflasi yang berkepanjang akibat "bubble" yang meletus tahun 80-90an.
Namun semuanya perlahan mulai berubah. Inflasi yang mulai bertahan di range 2-3%, lalu kenaikan upah pekerja yang naik melebihi rata-ratanya, dan stimulus 21T yen yang akan diberikan mendorong rate atau yield lebih tinggi lagi. Kenaikan tersebut merupakan kombinasi dari outlook inflasi yang mulai stabil di atas target BOJ di level 2% dan kekawatiran mengenai keberlanjutan kondisi fiskal pemerintah Jepang.
Yield obligasi 20 tahun Jepang melonjak ke level tertinggi sejak 1998. Open interest pada kontrak berjangka obligasi pemerintah 10Y mencapai 188.000 kontrak, menjadi yang tertinggi sejak Sep 2024. Outstanding futures naik +65.000 sejak Juni, yield yang meningkat diiringi dengan open interest yang meningkat pula menandakan akumulasi posisi short pada JGB. Harga futures 10Y turun -2.6% ke 135, mendekati level terendah sejak 2008. Sedangkan yield obligasi 10Y naik +34bps ke 1.81%, tertinggi sejak Juni 2008. Tekanan ini menunjukkan bond market Jepang dalam kondisi rapuh.
Ketika semuanya sudah di atas target, tentu BOJ akan kembali melakukan normalisasi kebijakannya. Saat ini BOJ menjadi bank sentral yang masih dalam fase pengetatan (menaikkan suku bunga). Ketika BOJ mengetatkan kebijakannya, yield akan naik dan JPY cenderung menguat. Hal ini membuat biaya hedging menjadi mahal dan memicu unwinding yen carry trade global sehingga investor melepas posisi leverage berbasis yen. Saat ini foreign asset portfolio Jepang ada di level JPY1,650 triliun atau USD10.7 triliun. Efek yang sangat besar akan terjadi jika ada repatriasi JPY.
Dampaknya: likuiditas USD pun ikut menyusut.
Carry trade awal (normal)
Ketika BOJ mengetatkan kebijakan
Unwinding carry trade
Efek ke likuiditas USD
Dengan begitu, unwinding yen carry trade membuat investor menjual aset berdenominasi USD dan mengkonversinya kembali ke JPY. Proses repatriasi ini mengurangi arus masuk USD ke pasar global, sehingga likuiditas USD menyusut. Dampaknya, aset yang sangat bergantung pada likuiditas seperti Bitcoin ikut tertekan.
Bagaimana menurutmu? Akankah BTC mencapai level 65 ribu?
Cek ulasannya di sini: https://id.tradingview.com/chart/BTCUSD/9vdvCxX1/
Jika kita perhatikan di timeframe weekly, terlihat pergerakan yang terjadi saat ini cenderung berpotensi mengikuti apa yang terjadi di tahun 2021-22. Di tahun tersebut terlihat bahwa BTC juga mencetak ATH di 69000 (panah biru). Namun ATH tersebut malah diiringi dengan indikator momentum yang mengalami divergensi. Terlihat ketika membentuk ATH, indikator momentum malah membentuk puncak yang lebih rendah (panah hitam). Setelah itu BTC terus terkoreksi hinga menembus EMA 50 & 200 weekly. BTC baru berkonsolidasi lagi di area fibo 123.6 (lingkaran merah).
Untuk saat ini BTC terkoreksi setelah mencetak level ATH. Sama seperti di tahun 2021, ATH yang terjadi diiringi dengan indikator momentum yang mengalami divergensi (panah abu-abu dan hitam). Ketika BTC ATH, puncak momentum malah lebih rendah dari puncak sebelumnya. Saat ini BTC sudah berhasil menembus ke bawah MA 500 weekly. Jika kita mengansumsikan bahwa history repeats itself, target konsolidasi BTC ada di area 62200-69000 (kotak merah).
Lalu apa penyebab koreksi yang terjadi?
Hipotesis saya ada 2 penyebabnya:
- Overleverage
- Unwind carry trade - JPY
Untuk yang overleveraged berarti posisi "kertas" atau paper asset (baca: kontrak futures) cenderung terlalu banyak. Para trader cenderung membuka posisi dengan leverage besar tanpa melihat margin yang mereka miliki. Cacing-cacing, naga-naga istilahnya. Namun kondisi ini akan berangsur pulih jika posisi overleveraged tersebut kembali normal atau menghilang.
Nah untuk yang poin 2 ini yang "mengkawatirkan". Kita tahu sendiri bahwa JPY menjadi funding currency selama beberapa dekade terakhir. Ini dikarenakan suku bunga yang minus membuat para pelaku pasar memanfaatkan hal tersebut untuk me-leverage posisi mereka di berbagai investasi kelas aset. Suku bunga minus merupakan salah satu opsi yang diambil Jepang karena mengalami deflasi yang berkepanjang akibat "bubble" yang meletus tahun 80-90an.
Namun semuanya perlahan mulai berubah. Inflasi yang mulai bertahan di range 2-3%, lalu kenaikan upah pekerja yang naik melebihi rata-ratanya, dan stimulus 21T yen yang akan diberikan mendorong rate atau yield lebih tinggi lagi. Kenaikan tersebut merupakan kombinasi dari outlook inflasi yang mulai stabil di atas target BOJ di level 2% dan kekawatiran mengenai keberlanjutan kondisi fiskal pemerintah Jepang.
Yield obligasi 20 tahun Jepang melonjak ke level tertinggi sejak 1998. Open interest pada kontrak berjangka obligasi pemerintah 10Y mencapai 188.000 kontrak, menjadi yang tertinggi sejak Sep 2024. Outstanding futures naik +65.000 sejak Juni, yield yang meningkat diiringi dengan open interest yang meningkat pula menandakan akumulasi posisi short pada JGB. Harga futures 10Y turun -2.6% ke 135, mendekati level terendah sejak 2008. Sedangkan yield obligasi 10Y naik +34bps ke 1.81%, tertinggi sejak Juni 2008. Tekanan ini menunjukkan bond market Jepang dalam kondisi rapuh.
Ketika semuanya sudah di atas target, tentu BOJ akan kembali melakukan normalisasi kebijakannya. Saat ini BOJ menjadi bank sentral yang masih dalam fase pengetatan (menaikkan suku bunga). Ketika BOJ mengetatkan kebijakannya, yield akan naik dan JPY cenderung menguat. Hal ini membuat biaya hedging menjadi mahal dan memicu unwinding yen carry trade global sehingga investor melepas posisi leverage berbasis yen. Saat ini foreign asset portfolio Jepang ada di level JPY1,650 triliun atau USD10.7 triliun. Efek yang sangat besar akan terjadi jika ada repatriasi JPY.
Dampaknya: likuiditas USD pun ikut menyusut.
Carry trade awal (normal)
- Investor global meminjam dalam JPY (biaya murah karena suku bunga rendah/negatif).
- Dana hasil pinjaman ditukar ke USD → lalu diinvestasikan ke aset berdenominasi USD (Treasuries, saham, Bitcoin, dll).
- Hasil: arus masuk USD → menambah likuiditas USD di pasar global.
Ketika BOJ mengetatkan kebijakan
- Yield JGB naik → biaya pinjam JPY meningkat.
- JPY menguat → biaya hedging terhadap USD makin mahal.
- Carry trade jadi tidak menarik → investor mulai menutup posisi.
Unwinding carry trade
- Investor menjual aset berdenominasi USD (Treasuries, saham, kripto).
- Hasil penjualan dikonversi kembali ke JPY untuk melunasi pinjaman.
- Proses ini menciptakan arus keluar USD dari pasar global.
Efek ke likuiditas USD
- Karena banyak investor serentak melakukan repatriasi ke JPY, permintaan USD menurun.
- Pasokan USD di pasar global menyusut → likuiditas USD berkurang.
- Aset yang paling sensitif terhadap likuiditas global (contoh: Bitcoin) ikut tertekan.
Dengan begitu, unwinding yen carry trade membuat investor menjual aset berdenominasi USD dan mengkonversinya kembali ke JPY. Proses repatriasi ini mengurangi arus masuk USD ke pasar global, sehingga likuiditas USD menyusut. Dampaknya, aset yang sangat bergantung pada likuiditas seperti Bitcoin ikut tertekan.
Bagaimana menurutmu? Akankah BTC mencapai level 65 ribu?
Pernyataan Penyangkalan
Informasi dan publikasi ini tidak dimaksudkan, dan bukan merupakan, saran atau rekomendasi keuangan, investasi, trading, atau jenis lainnya yang diberikan atau didukung oleh TradingView. Baca selengkapnya di Ketentuan Penggunaan.
Pernyataan Penyangkalan
Informasi dan publikasi ini tidak dimaksudkan, dan bukan merupakan, saran atau rekomendasi keuangan, investasi, trading, atau jenis lainnya yang diberikan atau didukung oleh TradingView. Baca selengkapnya di Ketentuan Penggunaan.
