TRICK : ADMR Dalam Uptrend Menuju Rp2,500 dan Rp3,200

152
TRICK : T.R.A.I.L Stock Pick 260219

ADMR telah Breakout Resistance dari Gap yang terjadi sejak 1H22 di area Rp2,090 - Rp2,130.

Kami melihat ADMR mengakhiri Technical Correction untuk kembali naik dalam Uptrend menuju Resistance berikut di Rp2,500 sebelum menuju Rp3,140.

Perlu waspada bila terjadi Breakdown Support penting di Rp1,585. Namun kami akan memonitor ketat apabila terjadi Breakdown di bawah Rp1,690 ynag artinya terjadi Lower Low.

ADMR berada di atas SMA60 yang mengarah ke atas. RSI 14 sudah Breakout Red Line alias Trigger Line sehingga terkonfirmasi RSI mengarah ke atas dan di area Netral (imagine the upside potential-nya!).

Sesaat lagi ADMR mendapat sinyal Buy dari PSAR dan akan memulai Rally di tengah Uptrend.

cuplikan

Harga Batubara (Coal Newcastle)

cuplikan

Cek SRIUS : Coal Mulai Mengawali Uptrend di sini :
SRIUS : Coal Newcastle Mulai Mengawali Uptrend


Berikut menurut A.R.I.S :

Drivers of Growth
  • Operasional Smelter Aluminium: ADMR telah berhasil melakukan komisioning smelter aluminium kapasitas 500ktpa di Kalimantan Utara pada Desember 2025. Target produksi tahun 2026 sebesar ~300kt dan diharapkan mencapai utilisasi penuh pada 4Q26. Bisnis ini diproyeksikan berkontribusi sebesar 33-51% terhadap EBITDA perusahaan di tahun 2026.
  • Kenaikan Harga Jual Rata-Rata (ASP): Harga aluminium global melonjak menjadi USD 3.100/t (naik 18% dalam tiga bulan terakhir) akibat defisit pasokan global. Di sisi lain, biaya bahan baku utama (alumina) cenderung menurun, yang memperlebar margin smelter dengan estimasi periode pengembalian modal (payback) yang sangat menarik selama 2,0 - 2,5 tahun.
  • Ekspansi Volume Batu Bara Metalurgi: Volume produksi batu bara metalurgi (coking coal) ditargetkan naik menjadi 7,0 - 7,5 juta ton pada 2026 (vs target 6,5-7,0 juta ton di 2025). Permintaan struktural yang kuat dari industri baja India tetap menjadi penopang utama volume penjualan.
  • Potensi Dividen: Dengan selesainya proyek capex besar (smelter), ADMR memiliki ruang untuk meningkatkan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) dari 28% menjadi ~50% di tahun 2026, memberikan potensi dividend yield sekitar 2,9%.

Risiko
  • Volatilitas Harga Komoditas: Kinerja laba bersih ADMR sangat sensitif terhadap harga batu bara metalurgi dan aluminium; setiap penurunan harga komoditas global akan langsung menekan margin.
  • Risiko Eksekusi Proyek: Tantangan dalam proses ramp-up utilisasi smelter baru serta ketergantungan pada stabilitas pasokan energi dan logistik di lokasi tambang Maruwai.
  • Ketidakpastian Regulasi: Potensi perubahan aturan ekspor atau royalti dari pemerintah Indonesia dapat mempengaruhi struktur biaya dan profitabilitas perusahaan.
  • ADMR saat ini dinilai menarik sebagai satu-satunya direct play untuk sektor aluminium di bursa Indonesia dengan prospek pertumbuhan laba per saham (EPS) CAGR sebesar 30% untuk periode 2025-2028.


--
Perhatian!

Kami tidak memantau perkembangan pergerakan aset ini sehingga kami sangat mungkin akan telat untuk Menutup Posisi. Kami memang tidak memberikan rekomendasi. Apa yang kami sampaikan adalah analisis serta kontrol internal dan bukan ditulis untuk diikuti.

Pernyataan Penyangkalan

Informasi dan publikasi ini tidak dimaksudkan, dan bukan merupakan, saran atau rekomendasi keuangan, investasi, trading, atau jenis lainnya yang diberikan atau didukung oleh TradingView. Baca selengkapnya di Ketentuan Penggunaan.